Sang Pemenang

Anggota tubuh kita adalah amanat dari Allah Subhanahu Wata’ala, jangan digunakan untuk hal haram. Kita menjaga mulut, mata dan telinga kita dari hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, karena kita takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ketika kedua putra Nabi Adam AS, salah satunya membunuh dan salah satunya dibunuh, siapakah yang menjadi pemenang? Yang membunuh atau yang dibunuh? yang dibunuh dialah yang menjadi pemenang dan yang membunuh menjadi pecundang selama-lamanya. Putra Nabi Adam AS yang terbunuh mengatakan “Kalau engkau ulurkan tanganmu untuk membunuhku saya tidak akan menjulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu, saya takut kepada Allah bukan takut kepadamu. Saya takut kepada Allah, tidak mau membunuh tidak mau membalas.

Kemenangan adalah untuk seseorang yang takut kepada Allah, takut matanya melihat kepada yang haram, takut lidahnya mengucap yang haram, takut telinganya mendengar yang haram, selama orang-orang seperti ini ada di barisan kita maka kita adalah pemenang. Namun selama di barisan kita orang yang tidak mengekang hawa nafsunya untuk melihat yang haram, untuk mendengar yang haram, untuk berucap yang haram, untuk melanggar norma dan adab maka walaupun kerajaan dunia di tangannya tetap saja ia pecundang.

Sayyidina Syekh Abubakar bin Salim beliau berkata “pada hakekatnya kami adalah raja-raja, kami adalah penguasa, jika ingin mencari penguasa selain kami kamu tidak menemukan penguasa di dunia yang semacam kami ini.” Hal ini karena mereka para sholihin menguasai matanya, mereka menguasai telinganya, mereka menguasai tangannya, dari hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Mudah-mudahan para pemimpin kita dijadikan penguasa yang sebenarnya yang menjaga matanya, telinganya, lidahnya, tangan dan kakinya dari hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.

Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang memenuhi matanya dengan hal yang haram maka Allah ta’ala akan penuhi mata orang tersebut dengan api neraka besok di hari Kiamat”. Sesungguhnya pandangan yang haram adalah panah beracun yang dilontarkan oleh Iblis yang terkutuk. Bersabda Rasulullah SAW “Barangsiapa yang meninggalkan pandangan yang haram karena takut kepada Allah, maka Allah cicipkan dalam hatinya manisnya iman”.

Betapa banyak orang-orang yang akhir hayatnya terharamkan tidak bisa mengucapkan dua kalimat syahadat akibat pandangan haram dan dia belum sempat bertaubat. Apakah pandangan yang haram itu? Melihat aurat, baik di jalanan ataupun di film, internet, smartphone, ponsel , komputer, tablet dan lain sebagainya. Waliyadubillahimindzaalik.

Begitupun dengan mata yang memandang muslim lain dengan pandangan yang meremehkan, Rasulullah SAW bersabda “Cukup seseorang dianggap sebagai penjahat jika ia merendahkan satu muslim lainnya”. Hargailah Laailahaillallah yang ada di dalam jiwa setiap muslim, jangan kita remehkan satu muslim pun. Jaga pandangan mata kita, janganlah digunakan untuk melihat aurat, aib, kekurangan atau kesalahan orang lain dengan itu kita akan menjadi pemenang.


sumber : Tausyiah Habib Jindan bin Novel di Majelis Habib Ali Al Habsyi Kwitang

Share Button
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *