MENUTUP AURAT

Diantara sunnah nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam yang diajarakan kepada kita adalah ketika kita memakai pakaian.  Seseorang boleh memakai pakaian apa saja yang penting  menutup aurat.  Aurat adalah hal dari bagian tubuh kita yang tidak boleh dilihat oleh orang dan wajib kita tutup. Aurat laki-laki baik dalam shalat ataupun di hadapan khalayak ramai “ma baina tsurra warughbah” yaitu  antara pusar dan lutut. Lutut bukan aurat tapi di atas lutut itulah aurat  yang tidak boleh dilihat dan antara pusar dan lutut wajib ditutup. Bukan hanya bagian depannya saja melainkan hingga sekelilingnya wajib ditutup oleh kaum laki-laki.

Adapun aurat  perempuan yang wajib untuk ditutup dan tidak boleh terlihat didalam sholat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan pergelangan tangan sampai ujung jari. Di dalam shalat  seluruh tubuh wanita wajib ditutup kecuali wajah dan pergelangan tangan sampai ke ujung jari itu yang boleh kelihatan. Namun ada hal yang perlu diperhatikan oleh perempuan ketika sholat menggunakan mukena atas-bawah ketika Takbiratul ihram lengan tangannya kelihatan maka shalatnya batal karena auratnya terbuka. Kemudian ketika rukuk, saat rukuk itu atasannya turun ke bawah sehingga dari samping bagian tangannya kelihatan sehingga shalatnya tidak sah.  Sebaiknya wanita memakai mukena terusan yang panjang sehingga tertutup semua auratnya. Begitupun telapak kaki perempuan tidak boleh nampak ketika sujud dalam shalat. Dan yang perlu diperhatikan ketika perempuan sholat adalah jangan sampai ada rambut menembus keluar dari bahan mukena sebab menyebabkan shalatnya tidak sah. Sebaiknya setelah memakai mukena taruh lagi kerudung di atas kepalanya dengan begitu auratnya dalam shalat aman dan tertutup rapat.

Diluar shalat  yaitu di hadapan mahromnya (ayah, anak, saudara, paman, keponakan, mertua dan menantu) aurat seorang perempuan minimal antara pusar sampai lutut tapi tidak ada perempuan demikian. Minimal kepala dan rambutnya bisa kelihatan di hadapan  mahromnya. Adapun di hadapan orang-orang yang bukan mahromnya(ajnabi) yang disepakati bagi seluruh mahzab adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Seluruh mazhab sepakat bahwa aurat perempuan di hadapan bukan mahromnya adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Hanya saja ada beberapa mazhab yang lebih ketat lagi terhadap perempuan yaitu mazhab Imam Hambali dan beberapa ulama dari mazhab imam syafi’I bahwa aurat perempuan itu seluruh tubuhnya termasuk wajah dan tangan. Adapun pendapat mazhab yang lain mengatakan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan tangannya seperti mazhab imam Abu Hanifah, mazhab imam Maliki dan beberapa ulama dari mazhab Imam Syafi’i.

Namun perlu kita ketahui bahwa para imam Mazhab yang menyatakan aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan pergelangan tangan sampai ujung jari itu bisa terbuka tidak mutlak begitu saja, ada syaratnya. Apa syaratnya? Pertama wajah dan kedua telapak tangan wanita itu Aman dari fitnah. Aman dari fitnah adalah si perempuan tidak memakai hiasan-hiasan wajah yang dapat membangkitkan fitnah, menarik perhatian orang dengan hiasan-hiasan wajah atau karena kecantikan wajah perempuan yang dapat menggoda pandangan mata laki-laki bukan mahromnya maka dalam hal ini wajah dan telapak tangan wajib untuk ditutup menurut mazhab yang membolehkan membuka wajah namun dalam situasi ini wajib untuk ditutup.

Syarat yang kedua, tidak ada laki-laki nakal yang melihatnya. Mazhab ulama yang mengatakan aurat perempuan termasuk wajah dan telapak tangan, mereka mengatakan silahkan tidak ada masalah, tapi kalau ada laki-laki nakal yang pasti akan melihat wajahnya dengan syahwat dan pasti akan tergoda maka dalam hal ini terdapat dua pilihan. Pilihan pertama melarang laki-laki itu untuk melihat namun jika  tidak mampu dilarang maka wajib bagi perempuan ini untuk menutup wajah dan kedua pergelangan tangannya sekalipun itu melalui pendapat mazhab yang membolehkan wajah dan pergelangan tangan terbuka. Tapi dalam situasi ini wajib untuk ditutup.

Dalil

Al Qur’an

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٥٩

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al Ahzab : 59)

 

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An Nur : 31)

Allah Subhanahu Wata’ala bahkan menjelaskan tentang cara berpakaian seorang wanita, yaitu apa yang menutupi kepala dan yang menutupi dada, Allah berkata hendaknya mereka memanjangkan penutup kepala mereka hingga menutupi dada mereka.  Mereka diperintahkan menutup kepala, wajah hingga ke dada mereka. “Dan jangan mereka memperlihatkan kecantikan mereka”. Ini ayat di dalam Alqur’an. Makanya sangat mengherankan kalau ada beberapa ulama yang mengatakan: “Jilbab dan menutup aurat tidak wajib bagi perempuan dan tidak ada ayatnya dalam Alqur’an”.

Dulu wanita-wanita Arab itu memakai gelang kaki sebagai perhiasan dan gelang kaki itu ada kerincingan-kerincingannya sehingga kalau mereka berjalan kerincingannya berbunyi sehingga mereka dilarang untuk menghentakkan kaki mereka sehingga kerincingannya berbunyi. Allah melarang wanita  melakukan hal itu ketika ada laki-laki ajnabi. Allah Subhanahu Wata’ala berkata: Jangan mereka menghentakkan kaki mereka sehingga perhiasan mereka yang tidak terlihat jadi Nampak.” Apabila gelang kaki yang tidak terlihat itu dilarang untuk dibunyikan maka bagaimana wajah seorang wanita yang adalah inti dari kecantikannya. Dari sini para ulama mengatakan maka wajah wajib untuk ditutup.

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيرٗا ٣٣

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS Al Ahzab : 33)

Tabarruj adalah membuka aurat kepada siapapun. Karena itu kalau ada orang yang mengatakan bahwasanya jilbab adalah pakaian adat orang Arab, ITU SALAH!!! sebab Allah Subhanahu Wata’ala telah menyatakan di dalam Alqur’an bahwasanya kaum Jahiliyah  jaman dahulu kebiasaannya bertabarruj. Orang-orang Arab sebelum Islam mereka dahulu bertabarruj membuka aurat. Karena itu Allah katakan kepada kaum mukminat “Jangan kalian bertabarruj sebagaimana dahulu wanita-wanita jahiliyah bertabarruj”.

Hadist

Di dalam hadist shahih Bukhari diriwayatkan oleh al-imam Abdurrazak musannafi dari sayyidatuna Ummu Salamah. Ummu Salamah bercerita ketika turun ayatul hijab, maka wanita-wanita Anshar keluar dari rumah mereka bagaikan Ghuroban (burung Gagak Hitam) sebab mereka menutup seluruh tubuh mereka dengan pakaian hitam sehingga diibaratkan seperti burung gagak Hitam.

Dalam riwayat lain, ketika Sayyidatuna Saudah Isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam keluar dari rumahnya di tengah malam dengan menutup seluruh tubuhnya dikenali lalu ditegur sama Sayyidina Umar sebab sayyidatuna Saudah dari postur tubuhnya gemuk besar walaupun menutup auratnya tapi dari postur tubuhnya ketahuan dia sayyidatuna Saudah.

Kemudian juga kalau memang wanita-wanita shahabat wajahnya terbuka maka saat haji tidak akan diperintahkan lagi untuk membuka wajah sebab sudah kebiasaan dengan membuka wajah tapi keyataannya tidak demikian. Kenyataan sehari-hari para wanita sahabat tertutup wajahnya sehingga saat haji oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam diperintahkan  untuk tidak menutup wajah mereka. Karena sehari-hari wajah mereka sudah tertutup sehingga ketika waktu haji diperintahkan oleh Rasulullah untuk membuka.

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam di dalam hadist Shahih Bukhari beliau mengatakan tentang pakaian wanita saat ihram, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam berkata “Hendaknya wanita saat Ihram tidak memakai penutup wajah”. Kalau memang dari awal mereka sudah membuka wajah maka tidak perlu mereka diperintahkan untuk membuka penutup wajah.

Dalam hadist shahih Bukhari juga Sayyiduna Abdullah ibnu Abbas bercerita bahwasanya Rasul SAW pada saat haji Wada’ Naik unta membonceng Sepupunya Fadhl ibnu Abbas. Fadhl wajahnya ganteng dan masih muda. Ketika Nabi berjalan tiba-tiba nabi dihentikan oleh salah seorang wanita yang ingin bertanya hukum fiqih kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam. Saat itu seorang wanita cantik dalam keadaan ihram sehingga wajahnya terbuka dan Nampak wajahnya yang sangat cantik. Dia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam lalu Rasul menjawab pertanyaan perempuan itu tanpa memandang wajah perempuan itu. Namun Fadhl bin Abbas yang ada di belakang memandangi wanita itu diketahui oleh Nabi sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam memegang janggut Fadhl bin Abbas dan ditarik ke samping dipalingkan wajahnya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam.

Para Ulama mengatakan jika wajah perempuan bukan aurat dan tidak boleh dipandang oleh laki-laki ajnabi (bukan mahrom) maka wajah Fadhl bin Abbas tidak akan dipalingkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam. Tapi karena wajah perempuan adalah aurat maka dipalingkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam.

Inilah dalil-dalil dari para ulama yang menyatakan bahwasanya wajah adalah bagian daripada perempuan dan masih ada dalil-dalil yang lain yang disebutkan oleh para ulama kita. Sebagaimana hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam yang menyatakan bahwasanya wajah bukan aurat sehingga diambillah pendapat ini oleh beberapa ulama mazhab. Intinya perempuan  wajib menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan pergelangan tangan. Dan kalau ingin lebih sempurna menutup auratnya sesuai apa yang disepakati oleh seluruh mazhab maka dia menutup  wajah dan tangannya. Jikalau belum mampu untuk sempurna maka  minimal dia menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan pergelangan tangan sampai ujung jari. Dan itu pun hanya boleh dibuka dengan syarat tanpa adanya hiasan wajah dan aman dari fitnah bukan seorang wanita yang sangat cantik. dan seterusnya.

Dan ada satu hal yang penting,  di jaman sekarang ini perempuan memakai jilbab menutup aurat tapi bajunya super ketat nah ini juga tidak benar, kashiyat Ariyat (berpakaian tapi telanjang) kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam melarang hal semacam ini. Begitupun hijab Syar’I yang marak akhir-akhir ini menutup aurat tapi pernak-perniknya sangat banyak artinya hal seperti ini perlu kita perhatikan, jangan kelebihan. Perempuan tidak dilarang berdandan namun dandanan perempuan bukan buat laki-laki ajnabi. Dandanan perempuan buat suami dan mahromnya saja. Selain itu yang pelu diperhatikan oleh Perempuan adalah keluar rumah memakai minyak wangi sehingga tercium bau wanginya oleh laki-laki yang bukan mahromnya. Kalau keluar ke toko khusus kaum wanita maka tidak masalah memakai wangi-wangian dan tidak ada yang menciumnya kecuali wanita. Namun kalau di tengah jalan ada laki-laki yang mencium wanginya tidak boleh. Sebab Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam melarang tegas di dalam hadist. Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wata’ala memberi kita petunjuk, Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin…


sumber : kajian kitab Al Mukhtar Minal Anwar Fii Shohbatil Akhyar oleh Habib Ahmad bin Novel Jindan

Share Button
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *