Mana Yang Harus Kita Dahulukan?

Sebagai manusia  kita memiliki  kesibukan antara kita dengan Allah seperti Amalan wajib kita Sholat 5 waktu  dan ibadah-ibadah Sunnah  lainnya seperti baca  baca Qur’an baca wirid dan sebagainya dan disaat yang sama kita pun memiliki  kewajiban yang harus kita tunaikan kepada mereka saudara-saudara kita yang kita jalin  persaudaraan dengannya karena Allah subhanahu wata’ala. kewajiban kita kepada Allah subhanahu wata’ala  wajib kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Begitupun hal-hal sunnah yang dianjurkan oleh Allah untuk  kita  lakukan kita lakukan dengan sebaik-baiknya sebagaimana kewajiban kita terhadap saudara-saudara yang kita jalin persaudaraan dengannya karena Allah subhanahu wata’ala. Artinya jalani semua dengan sebaik-baiknya secara benar.

Namun terkadang di satu waktu kita harus memilih mana yang lebih kita dahulukan? Urusan kita terhadap Allah ataukah urusan kita terhadap  saudara kita? Dalam hal ini apa yang harus kita lakukan? Al-imam Abdul Wahab Asy-Syarani mengatakan “Urusan kita kepada Allah ada dua hal yaitu yang wajib dan yang sunnah. Yang wajib harus kita dahulukan pelaksanaannya daripada urusan yang lainnya termasuk urusan terhadap saudara kita. Seandainya kita harus memilih, antara urusan yang wajib antara kita terhadap Allah dengan urusan terhadap saudara kita maka dahulukan kewajiban kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebab kewajiban  kepada Allah tidak boleh ditolerir.

Berbeda halnya jika urusan antara kita dengan Allah adalah perkara Sunnah  dan berbenturan dengan urusan saudara kita maka dalam hal ini kita dituntut lebih mengutamakan urusan saudara kita. Inilah yang harus kita lakukan yang merupakan hak persaudaraan yang harus kita tunaikan. “Hendaknya seseorang di antara kita mendahulukan kebutuhan darurat saudaranya dibanding  ibadah  yang harus dia lakukan yang hukumnya sunnah  antara dia dengan Allah”. Dahulukan urusan saudara kita yang darurat.  Ketika Saudara kita datang  meminta bantuan sedangkan kita ingin membaca Alqur’am maka Allah Subhanahu Wata’ala menyuruh kita untuk lebih mendahulukan pertolongan kepada hambaNya  karena membaca Qur’an hukumnya sunnah dan bisa diqadha di lain waktu  dan merupakan perkara-perkara Sunnah bukan perkara wajib.

Al-Imam Alhabib Ahmad bin Hasan Al-Atthas mengatakan “Aku  memiliki  bacaan wirid yang banyak berupa bacaan Qur’an, bacaan Dzikir  yang setiap hari aku baca, namun ketika aku  kedatangan tamu, saudara, dan sahabat yang aku jalin persaudaraan dengannya karena Allah maka aku tidak membaca dulu wirid-wirid tersebut namun aku lebih dulu menjamu dan mangurus tamu aku sampai urusan atau keperluannya selesai baik dia istirahat atau dia pulang ke rumahnya baru  aku baca wirid-wirid yang belum aku baca sejak pagi, aku qadha semuanya. Sebab Ini amal ibadah bisa diqodho tapi duduk dengan teman-teman yang kita jalin persaudaraan karena Allah belum tentu lagi ada kesempatan semacam ini. kalaupun bisa  kumpul  berdua lagi tapi belum tentu keadaan hati yang cerah nan bahagia akan datang kedua kalinya, ini satu hal yang perlu kita perhatikan. Makanya ketika kita ingin beribadah harus ada ilmunya. Sayang semangat ibadah jika tidak didampingi oleh ilmu. Sama saudara aja begini kita gugurkan hak Allah yang sunnah dan kita dahulukan hak persaudaraan. Itulah yang dianjurkan oleh Allah apalagi haknya orang tua, apalagi hak silaturahmi keluarga.

Sehingga apabila  waktunya majelis  bertepatan dengan waktunya bakti terhadap orang tua. Maka dahulukan bakti terhadap Orang tua sebab majelis yang kita hadiri hanya sekedar perantara/wasilah bukan tujuan. Wasilah untuk apa? Wasilah biar kita berbakti terhadap orang tua kita. Tujuan kita hadir di majelis  adalah untuk mendengar nasehat supaya ketika  pulang kita bisa  berbakti kepada orang tua, bisa menyambung silaturahmi, bisa menunaikan hak-hak persaudaraan, inilah tujuannya Majelis sebagai  wasilah untuk menyampaikan tujuan ini. Ketika tujuan sama wasilah bertepatan maka yang kita dahulukan adalah tujuan, bukan wasilah. Inilah akal sehat.

Al-Imam Asy-Sya’rani mengatakan “Hak persaudaraan kita terhadap orang lain yang tidak ada hubungan kecuali sesama Islam terus kita jalin persaudaraan  adalah Kita mengorbankan ibadah sunnah kita demi untuk menjalankan hak-hak persaudaraan apalagi terhadap famili/keluarga terlebih lagi  berbakti  terhadap  orang tua.

dikutip dari Kajian Kitab Al Mukhtar Minal Anwar Fi Shohbatil Akhyar oleh Habib Ahmad bin Novel Jindan pada Majelis Wakaf Habib Salim bin Ahmad Jindan Sabtu Sore

Share Button
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *