KH. Syafi’i Hadzami (1349-1427/1931-2006)

KH Syafi’i Hadzami dilahirkan pada tanggal 12 Ramadhan 1349 H/31 Januari 1931. Orang tuanya bernama Muhammad Saleh Raidi dan Ibu Mini. KH. Syafi’i Hadzami sejak kecil di bawah bimbingan kakeknya, Husin di Batutulis XIII Pecenongan. Di sinilah KH. Syafi’i Hadzami mendapatkan bimbingan intelektual pertama dengan belajar al- Qur’an hingga fasih beserta tajwidnya. Ia juga belajar ilmu nahwu dan sharaf. Ketika berusia 9 tahun, ia sudah menghatamkan al- Qur’an di bawah asuhan kakeknya yang disiplin dan tegas.

KH. Syafi’i Hadzami sejak kecil senang melihat orang- orang pintar, terutama para kiai. Ia ingin menyamai mereka. Oleh karenanya saat kecil ia senang berpakaian seperti para ulama. Tetapi ia tidak tahu dari mana datangnya keinginan itu. Padahal dalam tradisi keluarganya ia tidak melihat ada kecenderungan untuk menjadi kiai. Mungkin didikan kakeknya yang selalu menyuruhnya untuk mengaji dan sering mengajak ke tempat- tempat para ulama itulah yang membuat Syafi’i kecil ingin menyamai mereka. Keinginan itulah yang menjadikan KH. Syafi’i Hadzami gigih dalam menuntut ilmu. Kegigihan ini tidak pernah hilang dalam perjalanan hidupnya, tak ada satu masapun dalam hidupnya yang kosong dari kegiatan menimba ilmu.

Dalam menuntut ilmu, Syafi’i hanya terbatas pada wilayah Jakarta. Ini berbeda dengan para ulama Betawi lainnya yang menuntut ilmu ke beberapa tempat. Ia tidak pernah menempuh pendidikan agama di pondok pesantren atau madrasah apalagi belajar di Timur Tengah. Pengajian kitab di masjid yang hingga sekarang masih berlangsung di masyarakat Betawi telah menjadi tradisi intelektual yang paling berharga bagi KH. Syafi’i Hadzami. Namun keyakinan hatinya, ketekunan dan semangat juang yang didukung dengan kesungguhan beribadah, ketinggian akhlak dan kecerdesan otaknya telah menghantarkan KH. Syafi’i Hadzami meraih keberhasilan yang layak dibanggakan dan setara dengan ketinggian ulama lainnya. Inilah kelebihan KH. Syafi’i Hadzami dalam perjalanan intelektualnya yang berbeda dengan kebanyakan ulama lainnya dalam jaringan ulama abad ke 19-20.

Dalam biografinya yang disusun oleh Ali Yahya disebutkan, KH. Syafi’i Hadzami tidak membatasi diri pada ilmu tertentu. Ia menyukai berbagai bidang keilmuan. Di masa awal setelah mempelajari al-Qur’an beserta tajwidnya dengan baik, maka ilmu yang dipelajarinya adalah tauhid, fiqih dan ilmu alat (nahwu, sharaf dan balaghah). Ia menghafalkan berbagai kitab matan terutama yang berbentuk nadzam. Ia memberikan perhatian khusus untuk ilmu-ilmu alat. Penguasaan yang mendalam dalam ilmu alat menjadi prioritas utama di masa-masa awal. KH. Syafi’i Hadzami berkeyakinan bahwa pengembangan selanjutnya dalam penguasaan berbagai cabang ilmu keislaman akan sangat bergantung kepada penguasaan ilmu alat. Setelah memiliki penguasaan yang mendalam tentang ilmu alat barulah ia menekuni ilmu lainnya, seperti ilmu ushul fiqih beserta qawaidnya, manthiq, tafsir, ulumul hadist, tasawuf, falak, ‘arudh dan lain sebagainya.

Jaringan intelektual yang didapat KH. Syafi’i Hadzami dari guru-gurunya terbatas pada jaringan ulama Betawi yang dikenal sebagai masyarakat religius dan mengandaikan masjid sebagai pusat intelektual. Kendati demikian, KH. Syafi’i Hadzami memiliki jaringan intelektual ke atas (guru-gurunya), seperti KH. Mahmud Ramli (1866 M) yang berpuncak pada dua ulama Haramain ternama abad ke 17, Ahmad al Qusyasyi dan Abdul Aziz Al Zamzami.

Beberapa Ulama yang dikunjungi KH. Syafi’i Hadzami memberikan kemantapan ilmunya sekaligus memperdalam pengetahuannya dalam keilmuwan Islam. KH. Syafi’i Hadzami sering diajak kakeknya untuk mengaji dan membaca zikir di tempat Kiai Abdul Fattah (1884-1947 M) yang dikenal sebagai pembawa tarekat Idrisiyah ke Indonesia setelah mendapat ijazah dari Ahmad al-Syarif al-Sanusi di Mekah. Dari gurunya ini, ia pernah mendapat doa khusus. Waktu itu, ia ikut berzikir bersama kelompok tarekat Idrisiyah yang dipimpin Kiai Abdul Fattah. Dalam zikir itu, KH. Syafi’i Hadzami yang masih belia pernah mengalami tahap fana’ (lupa dan hilang kesadaran diri), karena dibimbing agar ingat kepada Allah semata. Ia tidak persis bagaimana situasinya saat itu. Maka, kiai pun memberinya sebuah doa khusus menghadap. Ia dipanggil secara khusus menghadap sang kiai. Kiai Abdul Fattah mendoakan Syafi’i agar kelak menjadi orang baik.

KH. Syafi’i Hadzami juga berguru kepada Pak Sholihin tentang ilmu bahasa Arab, nahwu dan sharaf selama 2 tahun. Pak Sholihin seperti kakeknya dalam mengajar yang tergolong keras dan disiplin. Sebagai seorang yang telah berjasa, maka untuk mengenangnya, musholla tempatnya belajar dinamakan Raudhah al-Sholihin.

Setelah mengaji al Qur’an kepada guru-gurunya, KH. Syafi’i Hadzami mengaji kepada Guru Sa’idan di Kemayoran selama lima tahun( 1948-1953). Pada gurunya ini ia belajar ilmu tajwid, ilmu nahwu dengan kitab pegangan Mulhat al I’rab dan ilmu fiqih dengan kitab pegangan al Tsimar al Yani’ah yang merupakan syarah dari kitab al Riyadh al Badi’ah. Guru Sa’idan pula yang menyuruhnya belajar kepada guru-guru yang lain, seperti Guru Ya’qub Sa’idi (Kebon Sirih), Guru Khalid (Gondangdia) dan Guru Abdul Madjid (Pekojan).

Salah satu guru utama KH. Syafi’i Hadzami adalah Habib Ali bin Husein al Atthas yang terkenal dengan sebutan Habib Ali Bungur. KH. Syafi’i Hadzami belajar kepadanya kurang lebih 18 tahun, mulai sejak 1958-1976. Seperti murid-murid Habib Ali lainnya (K.H.S. Muhammad bin Ali al Habsyi, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, KH. Abdullah Syafi’i, KH. Thohir Rohili, KH. Abdurrazaq Ma’mun, Prof. KH. Abu Bakar Aceh), KH. Syafi’i Hadzami juga datang dengan membaca kitab di hadapan Habib Ali yang sering disebut dengan sistem sorogan.

Ia juga kerapkali mengikuti pengajian umum yang diasuh oleh Habib Ali bin Abdurrahman al Habsyi Kwitang. Pada awalnya, ia diajak oleh kakeknya untuk menghadiri majelis yang biasa diadakan setiap hari Ahad. Bahkan dari Habib Ali bin Abdurrahman al Habsyi inilah ia mendapat kata pengantar berbahasa Arab dalam karyanya yang berjudul al Hujjat al Bayyinah.

KH. Syafi’i Hadzami juga berguru kepada KH. Mahmud Ramli, seorang ulama besar Betawi. Selama 6 tahun (1950-1956), ia mempelajari kitab-kitab kuning, di antaranya Ihya ‘Ulum al Din dan Bujayrimi. Selain KH. Syafi’i Hadzami, murid-murid Guru Romli yang menjadi ulama-ulama terkemuka di Jakarta adalah KH. Abdullah Syafi’i, KH. Thabrani Paseban dan lain-lain.

Guru KH. Syafi’i Hadzami yang lain adalah KH. Ya’qub Sa’idi di Kebon Sirih. Selama 5 tahun (1950-1955), ia telah mengkhatamkan kitab-kitab Ushuluddin dan Manthiq, seperti kitab Idhah al Mubham, Darwis Quwaysini dan lain-lain. Sedangkan dalam ilmu Nahwu ia belajar kepada KH. Muhammad Ali Hanafiyah, seperti kitab Kafrawi, Mulhat al I’rab dan Asymawi.

Beberapa guru KH. Syafi’i Hadzami lainnya adalah KH. Muhtar Muhammad (1953-1958), KH. Muhammad Sholeh Mushannif, KH. Zahruddin Utsman, Syekh Yasin al Fadani dan KH. Muhammad Thoha.

Jika melihat deretan nama guru-guru di atas, tampak sekali KH. Syafi’i Hadzami belajar kepada ulama-ulama yang berada di lingkungan Jakarta, meski ada beberapa ulama yang berasal dari luar Jakarta yang memiliki bobot intelektual yang luar biasa. Kendati demikian, KH. Syafi’i Hadzami memiliki tingkat keilmuan yang tidak kalah dengan ulama-ulama lainnya yang hidup dalam generasi abad ke 20.

Dalam menyikapi pembaharuan pemahaman ajaran-ajaran agama, KH. Syafi’i Hadzami bersikap cukup luwes dan tidak kaku. Dalam menghadapi gagasan-gagasan baru, ia tidak mau langsung menolak atau menyetujuinya tanpa menimbangnya terlebih dahulu dengan pedoman syariat. Jadi, pembaharuan dalam memahami agama bukan suatu yang harus ditolak, asalkan tidak keluar dari relnya dan ditangani oleh orang yang memiliki persyaratan- persyaratan untuk itu. Pandangan ini didasarkan pada teks hadis Nabi Muhammad SAW bahwa setiap seratus tahun ada yang disebut mujaddid (pembaharuan). Dalam kehidupan beragama ini ada mujaddid, yaitu orang-orang yang membaharui pandangan- pandangan agama. Jadi, yang di-tajdid-kan (diperbaharui) bukan agamanya, tetapi pandangannya. Ibarat mata yang sudah tidak bisa memandang dengan jelas, bila memakai kacamata, apa yang dipandang akan lebih jelas. Padahal, objek pandangannya sama saja. Jadi, bukan obyeknya yang diubah, melainkan alat untuk memandangnya yang perlu diperbaharui. Itulah tugas seorang mujaddid.

Dalam soal pendidikan bagi kaum wanita, KH. Syafi’i Hadzami berpandangan bahwa wanita berhak mendapatkan pendidikan yang cukup. Namun, mereka tidak harus berpendidikan terlalu tinggi dan tidak perlu menjadi wanita karir. Yang penting, wanita dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik. Itu sudah cukup dan itulah yang harus diprioritaskan. Di dalam Islam, patuh terhadap suami, mendidik anak, dan mengurus rumah tangga lebih utama bagi kaum wanita daripada mencari ilmu yang setinggi – tingginya, namun melupakan hal-hal yang pokok.

KH. Syafi’i Hadzami tetap menghargai pendidikan bagi kaum wanita, walau setinggi apapun. Hanya saja, ia berpendapat bahwa yang paling penting adalah bagaimana seorang wanita dapat menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik. Rumah tangga adalah medan karir yang utama bagi kaum wanita.

Ia mengatakan bahwa ulama-ulama di masa dahulu ada yang memakruhkan wanita belajar menulis. Wanita dibolehkan membaca tetapi tidak boleh menulis. Mungkin hal itu merupakan pengekangan sekali. Tetapi, harus dipahami latar belakangnya. Mungkin latar belakangnya adalah pertimbangan terhadap bahaya- bahaya yang dapat muncul di masa itu. Pergaulan wanita yang lebih luas memang akan fatal akibatnya. Tetapi, keadaan sudah jauh berubah. Sekarang tidak lagi mendengar ulama yang melarang wanita untuk belajar menulis. Bahkan, mereka mendorong wanita- wanita muslim, asalkan tidak meninggalkan tugas-tugas pokoknya sebagai istri atau ibu.

Menurutnya, untuk urusan-urusan yang berhubungan dengan masyarakat luas, sebaiknya kaum lelaki saja yang mengerjakan. Jadi, ada pembagian tugas antara suami dan istri. Hubungan luar ditangani suami, sedangkan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah diurus oleh istri. Tentu saja wanita dibolehkan beraktivitas, asalkan dalam batas-batas yang tidak melanggar aturan syara’.

Berkaitan dengan bagaimana seharusnya peran wanita menurut Islam, ia berpandangan bahwa wanita lebih utama berada di rumah. Jadi wanita melayani suami dan membina keluarga, Hal ini bukan berarti wanita tidak punya peranan sama sekali. Justru, ia sangat berperan dalam membina dan membangun keluarga. Menurutnya wanita boleh dan dianjurkan untuk berperan dalam keluarga, tentunya dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan ketentuan syara’. Pada prinsipnya, hal itu bukan untuk memperbodoh wanita, tetapi justru untuk menjaga dan memberdayakannya. Jika pengertian wanita karir itu adalah dalam bidang agama, misalnya seperti aktivitas yang dilakukan Hj. Tutty Alawiyah, menurut KH. Syafi’i Hadzami boleh-boleh saja asal memenuhi syarat-syarat agama. Tidak boleh saja seenaknya melainkan ada kaidah-kaidahnya, wanita merupakan perhiasan, sehingga harus dijaga. Jika dia berpidato, harus menghadap wanita tidak boleh menghadap laki-laki. Dalam majlis taklim ibu-ibu yang diasuh KH. Syafi’i Hadzami di rumahnya, digunakan dinding pemisah antara laki-laki dan perempuan.

Kitab yang diajarkan adalah kitab kuning yang sesuai dengan kebutuhan mereka, jamaah pengajian ini berasal dari sekitar rumahnya dan kebanyakan mereka sudah berkeluarga. Mereka diajarkan bukan dipersiapkan untuk menjadi pengajar. Apa yang diajarkan untuk mereka terapkan sendiri, baik sebagai peribadi maupun seorang istri atau seorang ibu, kendati begitu ada juga salah satu atau dua orang yang sekarang sudah hampir mengajar mengaji.

Mengenai kaum wanita yang bekerja keluar negeri, pada prinsipnya KH. Syafi’i Hadzami tidak setuju, wanita hanya dapat melakukannya jika dalam keadaan memaksa (Darurat), kalau tidak darurat tidak diperbolehkan. Penyebab ketidak bolehan, menurutnya karena wanita tidak boleh merantau tanpa disertai mahramnya, dengan alasan tersebut KH. Syafi’i Hadzami tidak menyetujui adanya Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang dikirim k c luar negeri. Kalau keadaan darurat, seperti tidak dapat makan di Indonesia dan tidak ada cara lain, baru diperbolehkan.

Dalam salah satu penjelasannya yang termuat dalam kitab Taudhih al-adillah jilid 6, KH. Syafi’i Hadzami mengatakan :

Mengenai tidak bolehnya wanita bekerja, adalah tergantung pada aktivitas yang ia kerjakan, dan dengan cara bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan. Karena sebagian besar tubuh wanita itu aurat, maka sebaiknya kalau bisa, janganlah wanita bekerja. Akan tetapi, kalau hal tersebut memang diperlukan, bolehlah wanita menjadi buruh atau karyawati, untuk pekerjaan yang layak dilakukan wanita dan tidak melangar ketentuan-ketentuan syara’, serta menjaga auratnya jangan sampai nampak dinikmati lelaki yang bukan mahram di jalan dan tempat ia bekerja. Jadi, kalau memang diperlukan, bolehlah wanita bekerja, asalkan jujur dan jangan melantur.

Dengan mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW, KH. Syafi’i Hadzami menceritakan bahwa di zaman dahulu ada seorang kisra (Kaisar) Persia yang bernama Anusyirwan. Waktu kaisar itu meninggal, Nabi bertanya pada para sahabat, ’’Siapa yang menggantikanya ? ” Sahabat menjawab bahwa yang menggantikanya adalah putrinya. Mendengar itu, Nabi mengatakan, “Tidak akan berbahagia suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada wanita. ” Ini lah yang mendasari pandangan KH. Syafi’i Hadzami terhadap peran aktif perempuan.

Semasa hidupnya, KH. Syafi’i Hadzami dikenal sebagai ulama yang produktif menuliskan pemikiranya dalam bentuk buku. Pada umumnya, karya-karyanya ditulis dalam bentuk risalah- risalah kecil dengan bahasa Indonesia bertuliskan Arab. Karya-karyanya hampir semuanya ditulis di era 80-an sebagai puncak intelektual sang Kiai. Sedangkan pada tahun-tahun berikutnya, produktifitas menulisnya sudah mulai berkurang. Meskipun karya-karya KH. Syafi’i Hadzami terkesan sangat sederhana, baik dari penampilan fisik buku-bukunya maupun dari bahasanya, namun materi-materi yang ditulis adalah tema-tema penting yang sangat dibutuhkan masyarakat luas. Karya-karyanya adalah :

  1. Tawdhih al-Adillah, Seratus Masalah Agama. Buku ini merupakan tanya jawab yang diasuhnya di Radio Cendrawasih. Hingga kini, sudah terbit dalam 7 jilid dan telah berkali-kali dicetak ulang, yang peredarannya bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negri jiran Malaysia.
  2. Sullamu al- ‘Arsy fi Qira ’at Warsy. Risalah ini selesai disusun pada tanggal 24 Dzulqa’idah 1376 H (1956 M). Jadi, KH. Syafi’i Hadzami menyusunnya di usia muda, yaitu pada usia 25 tahun. Risalah yang setebal 40 halaman ini berisi kaidah-kaidah khusus dalam pembacaan al-Qur’an menurut Syekh Warasy dan terdiri dari mukadimah, sepuluh mahar (pokok pembicaraan), dan satu khatimah (penutup).
  3. Qiyas adalah Hujjah Syar’iyyah. Risalah ini merupakan karya dalam bidang ushul fiqih. Dalam risalah ini, dikemukakan dalil-dalil dari al-Qur’an, hadis, dan Ijrna’ ulama yang menunjukan bahwa qiyas merupakan salah satu argumentasi syariah. Risalah ini selesai disusun pada tanggal 13 Shafar 1389 H bertepatan dengan 1 Mei 1969 M.
  4. Qabliyyah Jum’at. Risalah ini membahas kesunatan shalal sebelum Jum’at dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Dalam risalah ini dikemukakan nash-nash al-Qur’an, hadis, dan para ahli fikih.
  5. Shalat Tarawih. Untuk memenuhi kaum muslimin akan penjelasan tentang shalat Tarawih. Di dalamnya dikemukakan dan dijelaskan dalil-dalil dari hadis dan keterangan para ulama yang berkaitan dengan shalat tarawih. Mulai dari pengertiannya, ikhtilaf tentang jumlah rakaatnya, cara pelaksanannya, dan lain-lain dibahas dalam risalah ini.
  6. ‘Ujalah Fidyah Shalat. Risalah yang dituliskan pada tahun 1977 ini membahas perbedaan pendapat tentang pembayaran fidyah (mengeluarkan bahan makanan pokok) untuk seorang muslim yang telah meninggal dunia yang di masa hidupnya pernah meninggalkan beberapa waktu shalat fardhu. Risalah ini disusun karena adanya pertanyaan tentang masalah tersebut yang diajukan oleh seorang jama’ah pengajiannya.
  7. Mathmah al-Ruba fi Ma’rifah al-Riba. Dalam risalah ini dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan riba, seperti hukum riba, benda-benda ribawi, jenis-jenis riba, bank simpan pinjam, deposito, dan sebagainya. Risalah ini selesai ditulis pada tanggal 7 Muharam 1397 H (1976 M).

Pada hari Ahad, 07 Mei 2006 pukul 08.30 KH. Syafi’i Hadzami berpulang ke rahmatullah. Ratusan ribu ummat Islam dari berbagai penjuru kota Jabotabek berta’ziyah di kediamannya, Pondok Pesantren Al Asyiratu as Syafi’iyyah di Jl. KH. Syafi’i Hadzami Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Karena banyak para pengunjung, maka shalat janazah dilakukan dari pagi hingga shalat Magrib dan jenazah KH. Syafi’i Hazami dimakamkan di pemakaman keluarga di samping mushalahnya.

 

Share Button
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *