HIKMAH DAN MANFAAT BERJAMAAH

Seorang yang suka beribadah, menuntut ilmu dan selalu menginginkan kebaikan, hendaknya selalu berusaha mencari keberkahan Islam dan Muslimin dalam pertemuan-pertemuan mereka, seperti shalat jamaah, halaqah dzikir, majelis ilmu dan setiap pertemuan yang di dalamnya terdapat usaha untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Jumhur ahli tarekat sepakat bahwa kekeruhan yang timbul akibat berkumpul dan bergaul dengan teman-teman yang saleh, murid yang shidq dan teman yang sejalan lebih utama daripada menyendiri. Dalam sebuah hadis yang marfu’ dan kuat disebutkan bahwa

Rasulullah saw bersabda:

الوحدة خير من الجليس السوء, والجليس الصالح خير من الوحدة

“Menyendiri lebih baik daripada bersama teman duduk yang buruk. Dan teman duduk yang saleh lebih baik daripada menyendiri. ” (HR Baihaqi)

Hadis, akhbar\ atsar  yang menyatakan keutamaan berkumpul sangat banyak dan sulit dihitung. Bahkan sebagian besar ahli ilmu menyatakan bahwa membaca dzikir dengan jahr bersama orang-orang yang sejalan dan teman-teman yang shidg adalah lebih utama dan bermanfaat selama tidak ada hal-hal yang menghalanginya sebagaimana telah ditetapkan oleh syariat.

Seorang ulama menyatakan bahwa kejernihan yang diperoleh oleh mereka yang berkumpul (dalam kebaikan) akan dijadikan satu dan dibagi-bagikan kepada mereka. Sehingga setiap orang memperoleh bagiannya. Sebagai contoh adalah shalat berjamaah. Kehadiran hati orang- orang yang menunaikan shalat berjamaah dijadikan satu dan dibagikan kepada semua jamaah sehingga setiap orang mendapatkan shalat yang sempurna. Para ulama meriwayatkan bahwa Syeikh Abu Madyan ra berkata, “Setiap orang akan memperoleh pahala dari shalatnya sesuai apa yang dia tunaikan. Ada yang memperoleh pahala sepersepuluhnya, ada yang sepertiganya, ada yang separuhnya dan seterusnya. Adapun orang yang menunaikan shalat berjamaah, mereka akan mendapatkan pahala shalat yang sempurna. Shalat mereka akan saling melengkapi menjadi satu shalat yang sempurna. Keberkatan shalat yang sempurna itu kemudian oleh Allah diberikan kepada semua jamaah. Berkat berkumpul dan hadir dalam berjamaah, maka setiap orang memperoleh pahala shalat yang sempurna. Karena itulah shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendiri.”

Seorang muhaqqiq berkata, “Kehadiran hati orang-orang yang shalat berjamaah akan menutup kekurangan mereka yang hatinya lalai dan tidak hadir, sehingga shalat mereka semua menjadi sempurna seperti satu tubuh.” Diriwayatkan bahwa dalam bukunya yang berjudul ‘Ilalul ‘Ubudah, Imam Al-Mukaqqiq Tirmidzi ra berkata, “Salah satu sebab (disyariatkannya) shalat jamaah adalah karena perbedaan tingkat shalat manusia. Kadang ada satu orang yang shalatnya seperti 100.000 orang. Jika masyarakat berkumpul untuk menunaikan shalat, maka dalam jamaah tersebut ada orang kuat yang shalat di samping makmum yang lain, yang nilai shalatnya seperti 100 orang, 200 orang, 1000 orang atau lebih dari itu. Rahmat turun dalam jamaah tersebut dan dibagi kepada semua anggota jamaah. Orang yang kuat akan menutup kekurangan yang lemah, sehingga berkat orang kuat tersebut dia akan mendapatkan rahmat pula.”

Rasulullah saw bersabda:

مؤمن قوي ومؤمن ضعيف فالمؤمن القوي أحب الى الله تعالى من المؤمن الضعيف وكلاهما على الخير

“Mukmin kuat dan Mukmin lemah. Seorang Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah Ta’ala daripada seorang Mukmin yang lemah. Kendati demikian keduanya adalah baik.” (HR Muslim, Ibnu Majah, Ahmad dengan matan yang berbeda)

Tirmidzi telah menggambarkan orang yang sempurna shalatnya sebagai seorang Mukmin yang kuat dan orang yang kurang sempurna shalatnya sebagai seorang Mukmin yang lemah. Perbedaan nilai shalat keduanya tampak jelas. Jika dua Mukmin ini berkumpul mengerjakan shalat berjamaah, maka shalat keduanya dijadikan satu. Rahmat Allah akan turun sesuai dengan nilai shalat tersebut, sehingga orang yang lemah juga memperoleh rahmat.

Diriwayatkan bahwa Ka’ab ra berkata, “Aku mendapati dalam Taurat bahwa dalam umat ini ada seorang lelaki yang jika sujud kepada Allah, maka dosa semua orang yang shalat di belakangnya diampuni. Semua itu adalah berkat kemurahan Allah.”

Ka’ab ra jika mengerjakan shalat memilih shof akhir karena berharap di shof depan ada orang-orang yang disifatkan dalam kitab Taurat tersebut. Tidakkah kalian mengetahui sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

إن سركم أنتكبل صلاتكم فليؤمكم خيركم فإنهم وفدكم فيما بينكم وبين ربكم

 “Jika kalian ingin shalat kalian diterima, maka hendaknya yang menjadi imam kalian adalah orang yang paling baik di antara kalian. Sebab sesungguhnya dia adalah utusan kalian kepada Allah.” (HR Thabrani)

 

Orang yang membawa keinginan banyak orang tidaklah sama dengan orang yang hanya membawa keinginan satu orang. Mereka semua mengharapkan rahmat. Dan harapan satu orang tidaklah sama dengan harapan orang banyak. Permohonan maaf yang disampaikan oleh satu orang tidaklah sama dengan yang disampaikan oleh banyak orang. Sedangkan semua jamaah itu memohon maaf atas dosa- dosanya, meminta ampunan dan rahmat. Karena itulah Ibnu ‘Umar ra berkata, “Sesungguhnya Allah takjub dengan shalat berjamaah.”

Seorang Syeikh yang berasal dari Yaman menceritakan bahwa pada suatu hari dia dan sejumlah sadah bertemu dengan seorang tamu yang terkenal kesalehannya. Pada saat itu kami berada di desa Duwair, salah satu desa yang terletak di lembah Surdud. Ketika tiba waktu shalat Maghrib, seluruh sadah menunjuknya sebagai imam. Tetapi, beliau berkata, “Hendaknya yang menjadi imam shalat ini adalah salah seorang dari kalian (para sadah), nanti aku akan memberi kalian sebuah faedah.” Kami lalu shalat berjamah. Selepas shalat kami bertanya kepada beliau tentang faedah yang beliau janjikan. Beliau lalu berkata, “Rasulullah saw bersabda:

‘Ketika sekelompok orang berdiri untuk menunaikan shalat secara berjamaah, maka Allah memandang hati imam. Jika hatinya baik, maka Allah meridhai mereka, menerima shalat mereka, dan mengampuni mereka semua. Jika hatinya tidak memiliki kebaikan, maka Allah memandang hati para makmum. Jika ada salah satu makmum yang hatinya baik, maka Allah meridhai mereka semua, menerima shalat mereka dan mengampuni mereka. Dan jika tidak ada makmum yang hatinya memiliki kebaikan, maka Allah memandang perkumpulan mereka dan berdirinya mereka bersama-sama di hadapan-Nya untuk menunaikan shalat berjamaah, lalu Allah meridhai mereka, menerima shalat mereka dan mengampuni mereka semua.”

Ada sebuah cerita yang berhubungan dengan masalah ini. Diriwayatkan bahwa Syeikh ‘Umar bin Maimun Al- Kindi ra berkata, “Aku sering berziarah kepada kaum sholihin yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia bersama sejumlah temanku. Pada suatu hari seorang yang budiman berkata kepadaku, ‘Mungkin jika engkau berziarah seorang diri akan lebih utama.’ Aku pun segera menanyakan masalah ini kepada Abui ‘Abbas, Fadhl bin ‘Abdullah ra, seorang Syeikh yang terkemuka di masa itu. Kuceritakan apa yang bergejolak dalam hatiku karena ucapan budiman tersebut. Beliau ra menghela napas dan berkata, ‘Para ulama ra mengatakan bahwa air yag banyak tidak akan menjadi najis.”

Share Button
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *