Dr. KH. Nahrawi Abdul Salam Al-Indunisi (1931-1999)

Dr. KH. Ahmad Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi lahir di Jakarta 30 Agustus 1931. Ia adalah cucu dari Guru Mughni Kuningan Jakarta Selatan dari jalur ibu. Nama Al-Indunisi adalah tambahan ketika ia belajar di Mesir yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Indonesia.

Semasa kecil, pendidikan formal pertama kali yang ia tempuh adalah Taman Kanak-Kanak Belanda. Setelah itu, atas saran kakeknya, Guru Mughni, ia meneruskan pendidikannya di Unwanul Falah Kwitang dan Jamiatul Khair, Tanah Abang Jakarta sampai tingkat SLTA. Ia juga mengaji kepada KH. Abdullah Suhaimi, bapak dari KH. Abdul Adzim Abdullah Suhaimi, MA, ulama Betawi dari Mampang Prapatan Jakarta Selatan.

Pada 1952, Ahmad Nahrawi menuntut ilmu ke Mesir, tepatnya ketika ia pergi haji bersama bersama ibunya (ayahnya pada saat itu sudah wafat). Setelah melaksanakan ibadah haji, ia tidak kembali ke tanah air tetapi mengurus visa di Arab Saudi untuk pergi belajar di Mesir. Di negeri kaya peradaban itu, ia meraih sejumlah gelar kesarjanaan. Gelar Lc diraih tahun 1956 dari Fakultas Syari’ah Universitas AI-Azhar, Kairo. Kemudian dua gelar M.A diraihnya pada universitas yang sama, yakni M.A Fakultas Hukum pada 1958 dan M.A Fakultas Bahasa Arab Jurusan Pendidikan pada 1960. Pada tahun 1961, Nahrawi mendapat gelar Diploma I jurusan Hukum, selanjutnya Diploma II, keduanya diperoleh di Akademi Tinggi Liga Arab, Kairo. Kedua Diploma tersebut setara dengan M.A. Perjalanan studinya terus berlanjut. Pada tahun 1966, ia mendapat M.A Personal Statute dan Perbandingan Mazhab dari Universitas AI-Azhar, Kairo. Minatnya yang tinggi terhadap disiplin ilmu tersebut diteruskan dengan meraih gelar Doktor pada 1970 dalam bidang Sejarah Fiqih Islanu dari Fakultas Syari’ah dan Hukum, Universitas AI-Azhar, Kairo.

Sejumlah aktivitas keorganisasian pemah dijalaninya. Pada tahun 1950, Nahrawi mendirikan Ikatan Pelajar Indonesia Hijaz (IPIH) dan menjadi ketuanya sampai tahun 1955. Pada tahun 1953, ia mendirikan Organisasi Pelajar Indonesia di Mesir (PIM) yang kemudian diganti menjadi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan menjadi ketuanya sampai awal tahun 1960-an. Kemudian pada tahun 1970, mendirikan PPI di Damaskus, Syiria, sekaligus menjadi ketuanya hingga 1974.

Nahrawi pernah menjadi penyiar dan penerjemah pada Radio Mesir seksi siaran Bahasa Indonesia dari tahun 1954 hingga 1970. Pada tahun 1958 sampai dengan tahun 1968, ia menjadi guru bahasa Indonesia pada Akademi Bimbingan dan Kader AI-Azhar Cabang Universitas AI-Azhar untuk luar negeri. Ia juga pemah menjadi dosen bahasa Indonesia pada Fakultas Bahasa Indonesia Cabang Univeritas Ain Syamas, Kairo. Pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1974, ia menjadi pegawai lokal KBRI Damaskus dan memegang jabatan sebagai Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Indonesia dalam bahasa Arab yang diterbitkan oleh KBRI. Nahrawi juga pemah menjadi penyiar dan penerjemah Radio Saudi Arabia seksi Bahasa Indonesia di Jeddah dari tahun 1974 sampai tahun 1988.

Akhir tahun 1989, Nahrawi pulang ke Jakarta dan mendirikan Yayasan An-Nahrawi yang diantaranya bergerak di bidang percetakan kitab-kitabnya seperti kitab Muhammad fil Qur’an dan lainnya. Setelah Dr. KH. Ahmad Nahrawi wafat, yayasan An-Nahrawi sekarang telah melakukan inovasi dalam bidang dakwah yaitu dengan mengadakan forum diskusi, tanya jawab dan bedah buku melalui system dai online yang dipimpin oleh puterinya, Ustadzah Hj. Amirah, Lc, ME.

Karya-karya Dr. Ahmad Nahrawi antara lain Muhammad fil Qur’an, (berbahasa Arab dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr. Ahmad Nahrawi), Mukhtasar al-Bukhari wa Muslim, dan Al-Qiraat al-‘Ashr. Namun karangannya yang monumental adalah Al-Imam As-Syaji’i fi Madzabaihi al-Qadim wa al-Jadid yang telah diterjemahkan dan diedit langsung oleh puterinya Ustadzah Hj. Amirah, Lc, ME bekerjasama dengan Jakarta Islamic Centre dan penerbit Hikmah pada tahun 2008 dengan judul Ensiklopedia Imam Syafi’i. Kitab ini merupakan disertasinya dalam meraih gelar Doktor Perbandingan Mazhab Universitas Al-Azhar, Kairo dan menurut Prof. Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar sekaligus penguji dalam sidang doktornya di universitas tersebut, merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat karena membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi’i. Bahkan menurut KH. Saifuddin Amsir, salah seorang Rais Syuriah PB NU dan pengurus MUI Pusat, tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi’i di dunia Islam yang selengkap karya Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam ini. Begitu berbobotnya kitab ini, nyaris tidak ada satu pun penulis tentang mazhab Syafi’i, khususnya di Indonesia, yang tidak menjadikan kitab ini sebagai refrensinya.

Seperti ulama Betawi lainnya, selama di Jakarta Dr. Ahmad Nahrawi mengajar juga di beberapa majelis taklim di berbagai masjid, di antaranya di Masjid Al-Munawar, Pancoran, Jakarta Selatan yang dekat dengan rumahnya, Masjid Agung At-Tin, Masjid Istiqlal dan mendirikan Majelis Al-bahtsy wal tahqiq As-salam sebagai wadah pengajaran bagi masyarakat yang mengkaji buku karangannya seperti fiqh Imam Syafi’i. Setelah Dr. Ahmad Nahrawi wafat maka majelis tersebut diteruskan oleh KH Ahmad Mu’ti Mahfudz dan setelah KH. Ahmad Mu’ti wafat diteruskan oleh KH. Ahmad Kazruni Ishak, salah seorang murid Dr. KH. Ahmad Nahrawi hingga kini. Selain mengajar di majelis taklim, Dr. Ahmad Nahrawi juga pernah menjadi dosen di Fakultas Syari’ah IAIN (kini UIN) Ciputat. Dikarenakan jarak yang jauh dari tempat tinggal dan kesibukan lainnya, ia hanya sempat mengajar di IAIN tersebut hanya satu semester. Meskipun mengajar di majelis taklim, ia jarang disebut Kiyai. Bahkan lebih sering dipanggil doktor saja atau sering dipanggil syaikh. Budayawan Betawi Ridwan Saidi tidak menyebutnya kyai ketika mengisahkannya di buku Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta. Selain mengajar, ia juga tercatat sebagai Rais Syuriah PBNU pada tahun 1992-1998, pengurus di Komisi Fatwa dan Hukum Majelis Ulama Indonesia Pusat dan pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengkajian Obat-obatan dan Makanan (LP-POM) MUI Pusat pada tahun 1994. Pada tahun 1998, Dr. Ahmad Nahrawi juga tercatat sebagai salah satu deklarator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan menjadi Ketua Dewan Syura DPP PKB hingga wafatnya.

Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi wafat pada tanggal 21 Syawal atau 7 Februari 1999 di usia ke 68 tahun dan dimakamkan di pemakaman keluarga di dekat Masjid Ar-Riyadh Pedurenan, Karet, Setiabudi belakang Rumah Sakit MMC Kuningan Jakarta Selatan.

Share Button
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *