DOKTER HATI

“ Bidadari Bumi – Ustdzah Halimah Alaydrus “

Jika rasa benci atau cinta yang berlebihan tanpa sebab yang jelas adalah salah satu penyakit yang harus diobati, itu sudah kutahu dari dulu. Tapi kalau diobatinya adalah dengan cara dadamu diusap, kepalamu dipegang sembari di doakan agar kebencian dihatimu terhadap seseorang bisa hilang, seumur hidup baru kali ini kurasakan.

Aneh memang.

Bagaimana rasa benci terhadap salah satu pelajar yang aku mengajar di kelas nya bisa datang begitu tiba-tiba, tanpa ada sebab bahkan tanpa aba-aba. Aku tiba-tiba tidak ingin memandang wajahnya, pusing mendengar suaranya. Bahkan sungguh baru kutahu bahwa aku bisa benar-benar muntah tatkala secara tidak sengaja melihat wajahnya. Lebih anehnya lagi dia termasuk pelajar terbaik di kelasnya. Cerdas, aktif, penurut dan yang jelas dia tidak pernah bermasalah apapun denganku. Dia paasti bertanya-tanya dan bingung ketika kemudian aku memintanya untuk duduk dibarisan belakang dan tidak tepat dihadapanku. Karena aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dalam posisi seperti ini. Dia dan juga teman-teman sekelasnya pasti bingung ketika aku menintanya untuk menuliskan saja pertanyaan yang akan dia lobtarkan agar tidak mendengar suaranya yang bisa menyebabkan mual secara mendaedak begitu saja. Jangan kau kira aku tak ada usaha apa-apa untuk menghilangkannya. Berulang kali aku merenung berperang dengan diri sendiri dan mencoba menenangkan hati saat kebencian memanas-manasi. Usahaku tidak membuahkan hasil.

Do’a dan dzikir selalu kubaca setiap kali terpikir bahwa ini merupakan salah satu ujian untukku. Namun semuanya belum cukup untuk menghilangkan rasa itu. Setengah mati kucoba sembunyikan kebencian ini darinya, namun sepertinya dia mulai merasakannya juga. Dia lebih banyak diam di sepanjang mata pelajaranku. Duduk paling belakang dan tak lahi terlihat tersenyum seperti biasanya. Duuh… Aku telah melukai hatinya, aku telah menyakiti perasaannya.

Teman sekamarku yang juga seorang ustadzah mulai merasakan ketidak nyamanan ini, kuceritakan padanya keanehan yang terjadi lengkap dengan pembelaan bahwa rasa itu muncul tiba-tiba dan tanpa sebab apa-apa. Dan entah apa yang ada dalam benaknya, hinggal suatu siang sepulang dari masjid selepas shalat Dzuhur dia memintaku berkemas dan kemudian kami berdua bergegas pergi menemui seorang wanita 60 an tahun, temanku ini memanggil nya dengan panggilan Hubabah Umairoh. Kami menunggu cukup lama di ruang tamu karena beliau masih menemui tamu yang lain sebelum kami kemudia dipersilahkan menemui beliau di ruang tengah rumahnya. “Therapis? Dokter jiwa? Psikolog? Atau bahkan dukun?” Aku menerka-nerka.

Namun banyangan itu hilang seketika, saaat aku melihat sosoknya, beliau adalah seorang wanita dengan wajah keibuan, bicaranya lembut dan penuh senyuman, dihadapannya aku merasa seolah bertemu dengan seseorang yang telah lama kukenal. Siang itu masih dengan memakai mukena selepas sholat Dzuhur, beliau menyambut kami dengan hangat lalu menanyakan kabar Al Habib Umar bin Hafidz guru kami. Kemudian dengan penuh perhatian beliau mendengarkan apa yang dituturkan temanku mengenai diriku tentang rasa benci yang tiba-tiba kurasakan sebagai sesuatu yang tidak wajar, mengingat aku sebelumnya tidak pernah membenci seseorang tanpa sebab yang jelas. Beliau lalu berdiri menghampiriku, memegang kepalaku sembari menggumamkan doa-doa dan dzikir, tak lama kemudian beliau duduk di hadapanku, mengusap dadaku sambil tidak berhenti berdoa. Dan beliau mengkahiri bacaan-bacaannya dengan meminta kita semua membaca surat Alfatihah bersama. “ Ada 2 orang yang paling banyak di dengki oleh orang lain di atas muka bumi ini.” Kata beliau sembari menuangkan teh di cangkir kecil dan menghidangkannya di hadapan kami. “ Orang berharta dan orang yang berilmu.” Lanjut beliau, “ Jika kamu jadi salah seorang dari mereka, pandai-pandailah menjaga sikap saat bergaul dan berurusan dengan orang lain. Panda-pandai pulalah menyimpan rasa. Karena bahkan orang yang terlihat dicintai oleh kedua orang inipun akan menimbulkan iri dengki dari yang lainnya. Sepertinya itulah yang terjadi padamu.” Katanya bijak. Kami pulang setelah memperoleh anjuran beliau untuk membaca beberapa zikir saat suasana hati sedang tidak menentu.

Dan Subhanallaah…

Apa yang kemudian terjadi sesampainya di asrama sungguh luar biasa. Di pintu masuk aku berjumpa dengan pelajar yang pagi tadi perasaanku padanya masih dipenuhi dengan kebencian. Aku pandang wajahnya dan dia menunduk takut, kucari kebencian yang seminggu ini menyiksaku dan menyiksanya tentu saja, namun rasa itu sungguh-sungguh tak lagi tersisa, sudah hilang entah kemana. Aku langsung menyalami dan memeluknya, sementara dia kebingungan, tak mengerti apa yang terjadi. “ Maafkan aku..” kataku. “Ada apa ustdzah?” tanyanya kebingungan. “ Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi yang pasti aku minta maaf padamu atas semua kesalahanku yang kamu tau ataupun tidak.” Jawabku lirih sambil melepaskan pelukanku darinya.

Tujuh tahun berlalu sejak kejaidn itu..

Salah satu agenda kegiatan kunjungan kami ke Hadramaut adalah berziarah kepada para sesepuh yang masih ada. Selain meminta nasihat, kami gunakan kesempatan yang berharga ini untuk memohon agar mereka berkenan mendoakan kami. Dan nama Hubabah Umairoh aku masukkan dalam daftar kunjungan tersebut. Alhamdulillah, sekembalinya aku ke tanah air, aku mendapat kepercayaan setahun sekali dari sebuah biro perjalanan Haji dan Umroh untuk membimbing jamaah mereka yang hendak menunaikan ibadah umroh. Rombongan yang terdiri dari kurang lebih tiga puluhan oang itu aku pimpin menunaikan ibadah umroh sekaligus berziarah ke negeri Hadramaut tempat aku dulu pernah menuntut ilmu. Kami duduk di hadapan Hubaba Umairoh dan meminta beliauu mendoakan kami. Beliau terlihat jauh lebih tua dari saat kutemui beberapa tahun silam. Keriput di wajahnya semakin dalam, hanya semnagat dan kepercayan dirinya terhadap Allah yang kulihat tetap sama. Aku berusaha menterjemahkan percakapan rombonganku kepada beliau dan percakapan beliau kepada mereka. Dan ketika semuanya usai, aku berkata kepada beliau :

“ sekarang giliranku, Hubabah..” kataku sambil mendekat. “Doakan agar Allah berkenan mengaruniakanku keturunan. Hampir 4 tahun aku menikah belum juga dikaruniakan anak.” Beliau mendengarkan dengan seksama lalu berujar dengan santai. “Halimah.. Tidakkah kamu merasa hidup ini sudah begitu sibuk? Ada banyak hal di dunia ini menyibukkan dari ibadah kepada Laah. Dari 24 jam sehari semalam yang Allah berikan hanya beberapa jam yang tersisa kita gunakan untukNya. Apakah engkau masih ingin menambah kesibukanmu pula dengan urusan anak?” aku tercenung mendengar ucapannya yang tak kusangka… beliau lalu melanjutkan : “Aku menikah, dan dari sejak awal pernikahanku, aku selalu berharap jika dengan kehadiran anak-anak akan mentibukkanku dariNya, maka tanpa karunia anakpun, aku tak apa-apa.. aku tak ingin disibukkan dengan selainNya.”

“Tapi bukankah mereka akan jadi penerus amal kebaikan kita tatkala kita mati nantinya?” kataku membela diri. “ Tak adakah hal lain yang bisa menggantikannya? Ilmu yang kita ajarkan dan diamalkan bahkan oleh generasi mendatang setelah kita, doa orang banyak yang kita pernah berbuat baik padanya, amal jariyah yang telah kita lakukan dan kemanfaatannya telah dirasakan?” Aku terdiam dan berfikir panjang… Hubabah Umairoh tak menyisakan argumen untukku menjawab ucapnnya. “Tapi.. tapi aku masih menginginkannya hanya untuk sekedar kesempurnaan menjadi seorang wanita” kataku setengah terbata-bata. “Benar anakku aku memahamimu.. Karenanya aku akan tetap mendoakanmu.. namun yakin dan selalu percayalah, bahwa apapun yang Dia pilihkan untukmu itu merupakan hal terbaik yang Dia karuniakan, dia mengetahui segalanya, dan kita tidak mengetahui apapun sesungguhnya..”

Kata-kata bijaknya selalu kukenang sampai saat ini, dan sampai saat ini pula aku selalu berdoa kiranya Allah berkenan memanjangkan umurnya agar masih banyak orang-orang sepertiku yang bisa memetik pelajaran darinya. Tentang tujuah hidup seseungguhnya, tetnang tawaka, tentang keikhlasan, tentang segala hal. Meski entah, apakah orang seperti beliau berharap masih ingin lebih lama hidup di muka bumi ini atau justru sudah merindukan kematian sebagai jembatan pertemuannya dengan Sang Pencipta?

 

Share Button
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *