DOKTER HATI

“ Bidadari Bumi – Ustdzah Halimah Alaydrus “

Jika rasa benci atau cinta yang berlebihan tanpa sebab yang jelas adalah salah satu penyakit yang harus diobati, itu sudah kutahu dari dulu. Tapi kalau diobatinya adalah dengan cara dadamu diusap, kepalamu dipegang sembari di doakan agar kebencian dihatimu terhadap seseorang bisa hilang, seumur hidup baru kali ini kurasakan.

Aneh memang.

Bagaimana rasa benci terhadap salah satu pelajar yang aku mengajar di kelas nya bisa datang begitu tiba-tiba, tanpa ada sebab bahkan tanpa aba-aba. Aku tiba-tiba tidak ingin memandang wajahnya, pusing mendengar suaranya. Bahkan sungguh baru kutahu bahwa aku bisa benar-benar muntah tatkala secara tidak sengaja melihat wajahnya. Lebih anehnya lagi dia termasuk pelajar terbaik di kelasnya. Cerdas, aktif, penurut dan yang jelas dia tidak pernah bermasalah apapun denganku. Dia paasti bertanya-tanya dan bingung ketika kemudian aku memintanya untuk duduk dibarisan belakang dan tidak tepat dihadapanku. Karena aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dalam posisi seperti ini. Dia dan juga teman-teman sekelasnya pasti bingung ketika aku menintanya untuk menuliskan saja pertanyaan yang akan dia lobtarkan agar tidak mendengar suaranya yang bisa menyebabkan mual secara mendaedak begitu saja. Jangan kau kira aku tak ada usaha apa-apa untuk menghilangkannya. Berulang kali aku merenung berperang dengan diri sendiri dan mencoba menenangkan hati saat kebencian memanas-manasi. Usahaku tidak membuahkan hasil.

Read more

AYAT-AYAT AL-QURAN & HADIS-HADIS NABI SERTA PENDAPAT PARA ULAMA FIQIH SEPUTAR KEWAJIBAN MENUTUPI ‘AURAT BAGI WANITA

Sebelum kami memaparkan ayat-ayat Al-Qur’an seputar kewajiban menutupi ‘aurat bagi wanita, ada baiknya kami menyebutkan beberapa pengantar berikut ini:

Pertama

Syeikh Ibn Hajar dalam kitabnya Al-i’lam bi Qawathi’il Islam (hal. 164) berkata: “Sesungguhnya orang yang menolak sebuah ketentuan hukum yang dinyatakan melalui redaksi yang cukup tegas dan jelas dalam Al-Qur’an maupun Sunnah, dan ketentuan tersebut telah pasti maknanya serta dapat dipahami secara zhahir, maka orang tersebut telah kafir, seperti disepakati oleh ulama Islam.”

Masih dalam kitab yang sama (hal.94) Ibn Hajar menuturkan “Di antara penyebab kekafiran seseorang adalah ketika ia menghalalkan sesuatu yang hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, seperti meminum minuman keras dan perbuatan liwath (homoseks) jika hal itu diketahui dari agama secara pasti.”

Selanjutnya pada halaman 150 beliau juga menuturkan: “Barang siapa menyepelekan suatu hukum syariat Islam, maka sungguh ia telah kafir.”

Read more

Syarat-Syarat Hijab Syar’i

  1. Hijabtersebut wajib menutupi seluruh anggota badan sebagaimanatelah disebutkan ketika menafsirkan ayat seputar hijab.
  2. Hijab tersebut harus tebal, tidak tipis, karena tujuan dari menutupi badan dengan hijab adalah menutupi ‘aurat. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika memasuki rumah Nabi (saw), pernah suatu saat ‘Asma mengenakan pakaian tipis lalu Rasul berpaling darinya.
  3. Hijab yang dikenakan tidak berbentuk hiasan yang menampilkankeindahan, karena justru hijab (yakni pakaian longgar yang digunakan sebagai penutup baju wanita-pent) diwajibkan penggunaannya untuk menghalangi tampaknya hiasan atau keindahan wanita Allah (swt) berfirman, dan janganlah mereka menampakkan hiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak darinya (QS. an-Nur [24]: 31) yakni kecuali yang terlihat tanpa maksud untuk menampakkannya.
  4. Hijab syar’i yang dikenakan harus longgar, tidak ketat dan tidak menampilkan tubuh secara transparan, tidak pula memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh wanita yang merupakan ‘aurat ituhal ini didasari oleh hadits Rasulullah (saw) yang maknanya kurang lebih sebagai berikut, “Dan wanita-wanita yang telanjang, yang secara sengaja mengundang hasrat kaum pria.”
  5. Wanita yang mengenakan Hijab Syar’i tersebut tidak mengenakan wewangian. Hal ini didasari oleh sebuah hadits yang bunyi maknanya kurang lebih sebagai berikut, “Apabila wanita mengenakan wewangian lalu berlalu melintasi sebuah majlis, maka ia sama saja dengan seorang pezina.” Diriwayatkan oleh para pengarang kitab hadits yang dikenal dengan Ashab Sunan. At-Turmudzi menyatakan bahwa hadits derajatnya shahih.
  6. Hijab yang dikenakan wanita tidak memiliki kemiripan yang digunakan kaum pria. Hal ini didasari oleh sebuah hadits dari Abu Hurairah yang makna haditsnya kurang lebih sebagai berikut, “Nabi (saw) melaknat seorang lelaki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian lelaki” HR Abu Daud dan An-Nasai.

  1. *****
1 2