KH. Thohir Rohili (1920-1999)

kh thohir rohiliKH. Thohir Rohili adalah salah seorang ulama terkenal Betawi dari Bukit Duri Jakarta Selatan. Ia dilahirkan pada tahun 1920 dan wafat pada hari Kamis, 27 Mei 1999 M/13 Shofar 1420 H tahun. Dia menuntut ilmu di halaqah-halaqah Masjid al-Haram di Makkah. Pada 21 Januari 1951 (12 Rabiul Awal 1770 H), ia mendirikan lembaga pendidikan Islam dengan nama Madrasah Diniyyah At-Tahiriyah. Dalam perkembangannya madrasah ini telah menjadi Universitas Islam At-Tahiriyah. Pada tahun 1967 lembaga pendidikan ini membuka Radio At-Tahiriyah untuk kegiatan dakwah Islam. Sejak tahun 1968, telah dibentuk Yayasan al-Diniyah At-Tahiriyah dengan pendiri utamanya KH. Muhammad Thohir bin Haji Rohili, Salbiyah Ramli dan Hj. Siti Suryani Tahir. Lembaga ini mempunyai peranan besar sekali dalam kegiatan dakwah Islam di Jakarta Seperti halnya ICH. Mursyidi, KH. Thohir Rohili pemah menjabat anggota DPR selama dua periode dan pernah menjadi Ketua NU DKI Jakarta. Semasa hidupnya, bersama KH. Abdullah Syafi’i ia berguru kepada Guru Marzuqi, Guru Abdul Madjid Pekojan dan Habib Ali Kwitang. Saat belajar kepada Habib Ali Kwitang, KH. Tohir Rohili, KH. Abdullah Syafi’i dan KH. Fathullah Harun dipersaudarakan dengan putranya Habib Ali, yaitu Habib Muhammad Al-Habsyi, Dari KH. Abdullah Syafi’i dan KH. Tohir Rohili berdiri dan berkembang pesat majelis taklim As- Syafi’iyah dan At-Tahiriyah. Sedang.kan KH. Fathullah Harun menjadi ulama Betawi ternama di Malaysia.

Read more

KH. Ahmad Zayadi Muhajir (1918-1994)

kh ahmad zayadiUlama dari Klender lainnya adalah KH. Ahmad Zayadi Muhajir. Ia dilahirkan pada tanggal 23 Desember 1918 di Kampung Tanah 80 Klender Jakarta Timur. Ayahnya, H. Muhajir bin Ahmad Gojek bin Dato KH. Muhammad Sholeh bin Tinggal adalah orang Banten, karena buyutnya Dato KH. Muhammad Sholeh yang dikenal dengan nama Mualim Ale adalah seorang ulama Banten yang hijrah serta menetap di Kampung Tanah 80. Rumah Dato KH. Muhammad Sholeh pada waktu itu terletak di sekitar Madrasah Az-Ziyadah atau asrama para santri sebelah Barat. Sedangkan ibunya, Umi Anisah berdarah Betawi. Jadi Ahmad Zayadi Muhajir seorang ulama berdarah Banten dan Betawi.

Read more

KH. Muhammad Radjiun (1916-1982)

Muhammad Radjiun bin Abdurrahim bin Muhammad Nafe bin Abdul Halim dilahirkan di Kebon Sirih Jakarta Pusat pada tahun 1916. Ia berguru kepada Guru Mansur Jembatan Lima dan Guru Madjid Pekojan kemudian pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama.

Radjiun hobi bermain sepak bola. Ia hoby sepak bola ketika terjadi Perang Dunia II yang memutuskan jalur laut dan otomatis memutuskan kiriman uang dari tanah air. Untuk menyambung hidup, ia akhirnya menjadi pemain sepak bola di kesebelasan Nejed. Hasil dari bermain bola di samping dinikmati sendiri ia bagikan juga kepada teman-temannya yang bermukim (belajar) di Makkah. Di antara temannya tersebut adalah KH. Nur Ali Bekasi.

Read more

KH. Ahmad Mursyidi (1915-2003)

kh ahmad mursidiDi pinggir Timur Jakarta, tepatnya di Klender, pada 15 November 1915 lahir seorang ulama terkemuka bernama KH. Ahmad Mursyidi dari pasangan H. Maisin dan Hj. Fatimah. Ayahnya Mursyidi, H. Maisin adalah seorang ustadz Klender sehingga dia mendidik anaknya dengan mengajarkan pokok-pokok ajaran Islam yang meliputi aqidah, syariah dan akhlak al-karimah sejak Mursyidi berusia balita. Bahkan ketika Mursyidi masih kecil harus menghafalkan “aqidah lima puluh” dan beberapa surat pendek yang terdapat dalam al-Qur’an juz 30 serta belajar membaca al- Quran berikut tajwidnya. Pada tahun 1926, ketika berusia 11 tahun, Mursyidi baru diperbolehkan menempuh pendidikan formal dengan memasuki Sekolah Rakyat (SR) di Pulo Gadung. Saat itu di Klender cuma ada satu sekolah yang terletak di Pulo Gadung, sekitar empat kilometer dari rumah Mursyidi. Setiap pagi ia berjalan kaki ke sekolah di Pulo Gadung dan siangnya ia menimba ilmu agama Islam kepada Ustadz Abdul Qodir di Pondok Bambu Jakarta Timur juga dengan berjalan kaki.

Read more

1 2 3 4 5 12