Umur Pertama bag 2

Sebenarnya semua zuriat Adam sudah menetap di punggung Adam, ketika beliau masih di dalam syurga. Buktinya ialah Hadis syafaat berikut:

وهل أخرجكم من الجنة إلا خطيئة أبيكم آدم

“Dan tiadalah kamu di keluarkan dari syurga, melainkan di sebabkan kesalahan bapa kamu adam.”

Dalam hadis yang lain pula, apabila berlaku tanyajawab Adam dengan Musa a.s., maka Musa telah menghujah Adam dengan katanya:

أنت الذي أخرجت الناس من الجنة بخطيئتك

“Engkaulah yang menyebabkan manusia terhalau dari syurga karena kesalahanmu.”

Read more

Umur Pertama

Masanya dari sejak allah  ta’ala menciptakan Adam a.s. dan menitipkan anak keturunan di sulbinya yang penuh keberkatan, dari para generasi yg benar (ahlul-yamin) dan generasi yg sesat ( ahlu-syimal). Mereka itu adalah orang-orang yang di dalam kedua genggaman tangan Allah yang maha suci (sebagaimana bunyinya sebuah Hadis Qudsi).

Allah s.w.t. telah  mengeluarkan anak keturunan adam ini dari tulang punggungnya, setelah Dia menetapkan mereka sekalian di situ, yaitu pada hari Mitsaaq atau hari mengambil janji dari sekalian manusia untuk mengakui keesaan dan ketuhanan allah s.w.t. dan momentum itu terjadi di lembah Na’man,  yaitu lembah yang dekat  dengan Padang Arafah, sesuai dengan firman Allah Ta’ala.

“Dan ketika Tuhan kamu menjadikan keturan Adam dari punggungnya, dan Tuhan mengambik kesaksian dari mereka dengan berkata: Bukan kah Aku ini Tuhan kamu ?” mereka menjawab : betul kami bersaksi engkaulah tuhan kami’. (Kami lakukan yg demikian itu ) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan : “sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (keesaan tuhan) (Al-A’raf:172)

Dan seterusnya  bacalah lagi ayat-ayat yang berikutnya pula.

Di dalam khabar, atau atsar tersebut suatu riwayat, bahwasanya Allah s.w.t. setelah mengambil perjanjian dari keturunan adam a.s. dituliskanNya bagi mereka suatu catatan, lalu disimpankanNya pada Hajarul-aswad (Batu Hitam). Sebab itulah para Haji ketika mencium Hajarul-aswad setelah selesai tawaf di baitul-atiq (Ka’bah), membaca bacaan berikut:

اللهم ايمانا بك ووفـاء بعهدك وتصديقا بكتابك.

“Ya Allah! YaTuhanku! Ini adalah sebagai memenuhi keimanan denganMu, dan sebagai menunaikan janjiku kepadaMu, dan sebagai mempercayai kepada ketabmu”

Tiada keraguan  lagi, bahwa pengakuan ini menunjukan bahwasanya anak keturunan adam terdapat perwujudan, pendengaran dan percakapan, akan tetapi mereka berada di dalam peringkat lain dari peringkat-peringkat perwujudan. Jelaslah perkara itu berlaku bukan pada peringkat ujud sekarang yang di dunia ini, karena peringkat-peringkat ujud itu banyak, sebagaimana yang telah di katakan oleh ahli-ahli yang mengatahui mengenainya.

Pernah di riwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w.berkata: Baginda telah menjadi Nabi, sedang Adam masih berada dalam peringkat antara air dan tanah, dan antara roh dan jasad.Dan bahwasanya baginda berada bersama Adam ketika nabi saw diturunkan ke dunia dan nabi saw bersma nabi nuh ketika menaiki perahu dan nabi saw bersama nabi ibrahim, ketika beliau di lemparkan ke dalam api pembakaran Raja Namrudz. Meskipun perkara ini umum berlaku pada sekalian anak keturunan Adam yang menetap pada sulbi para nabi tersebut alihimus-shalatu was-salam.Akan tetapi bagi zat Rasulullah s.a.w.sendiri ujud yang lebih lengkap  dan sempurna. Hal itu mungkin di ketahui o leh baginda dan di rasakannya sendiri ketika berlaku, sehingga baginda di lahirkan di dalan duniawi ini.

Kata-kata baginda seperti di atas tadi menunjukan kelebihan baginda dari selain manusia, sebagai seorang manusia yang telah di beri keutamaan, dan agamanya juga turut menjadi utama lantaran keutamaan yang di sanjungnya. Adapun zuriat-zuriat yang lain, tidak mustahil boleh merasakan hal-hal yang serupa ketika dalam peringkat umur itu, terutama sekali pada masa mengambil janji kepada Tuhan di ‘Yaumil Mitsaq’ (Hari mengambil Janji), akan tetapi ingatan di hari itu sudah tidak ada lagi dalam pengetahuan atau perasaan mereka, sebagaimana ianya tetap dan kekal pada diri baginda Rasulullah s.a.w.


Sumber : Sabillul Iddikar

Menjaga Hati Adalah Modal Utama

Hati adalah modal utama kita dan ketahuilah kita di perintahkan taat kepada Allah SWT dan di perintahkan untuk menjauhi kemaksiatan. Ketaatan yang palig hebat adalah ketaata hati lebih hebat dari ketaatan jasmani dan kemaksiatan yang paling keji adalah kemaksiatan hati lebih keji dari kemaksiatan jasmani. Ketaatan yang paling hebat adalah keimanan yang merupakan pondasi dari segala ketaatan yang mana letaknya ada di dalam hati karena semuanya tanpa iman tidak akan berarti dan kemaksiatan yang paling keji adalah kekufuran dimana tidak ada kejahatan yang lebih buruk dari kekufuran yang letaknya dalam hati manusia. Karenanya tugas kita untuk selalu menjaga modal utama kita yaitu hati kita agar terhindar dari hal-hal yag tercela.

Read more

DUNIA ADALAH HIKMAH

Kalam Syekh Abdulqadir al-Jailani

Wahai manusia yang mengeluh kepada makhluk! apa manfaat yang kamu dapatkan dari keluhanmu itu? Padahal makhluk sama sekali tidak dapat memberikan manfaat atau pun menimpakan bahaya kepadamu. Apabila kamu bersandar kepada mereka dan bersekutu di pintu Allah SWT, maka niscaya mereka akan menjauhimu, menjerumuskan dirimu dalam murka­Nya dan menghalangimu dari-Nya. Wahai insan pandir yang mengaku berilmu! Di antara bukti kepandiranmu adalah meminta dunia kepada selain-Nya. Kamu berharap terbebas dari berbagai kesulitan dengan mengeluh kepada makhluk.

Jika anjing yang rakus saja bisa belajar menjaga buruannya dengan meninggalkan kerakusan dalam tabiatnya, begitu pula burung yang belajar menentang tabiatnya dengan meninggalkan sesuatu yang diperuntukkan baginya, maka sesungguhnya jiwamu lebih layak untuk belajar. Ajarilah dan beri pemahaman kepada hatimu agar tidak memakan agamamu, mengoyakmu, dan mengkhianati amanat Allah SWT yang dititipkan kepadamu. Agama seorang mukmin adalah daging dan darahnya. Janganlah kamu berkawan dengan seseorang sebelum kamu mempelajarinya. Jika kamu sudah mempelajari, memahami dan merasakan ketenangan, barulah kamu bisa berkawan dengannya. Kemana pun kamu berjalan, janganlah kamu meninggalkannya dalam segala situasi. Jika jiwa telah merasakan tenang, maka ia akan menjadi santun, alim dan ridha dengan dunia yang sudah ditakdirkan baginya.

Read more

1 2 3 4 10