MENUTUP AURAT

Diantara sunnah nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi washahbihi wasallam yang diajarakan kepada kita adalah ketika kita memakai pakaian.  Seseorang boleh memakai pakaian apa saja yang penting  menutup aurat.  Aurat adalah hal dari bagian tubuh kita yang tidak boleh dilihat oleh orang dan wajib kita tutup. Aurat laki-laki baik dalam shalat ataupun di hadapan khalayak ramai “ma baina tsurra warughbah” yaitu  antara pusar dan lutut. Lutut bukan aurat tapi di atas lutut itulah aurat  yang tidak boleh dilihat dan antara pusar dan lutut wajib ditutup. Bukan hanya bagian depannya saja melainkan hingga sekelilingnya wajib ditutup oleh kaum laki-laki.

Read more

Sang Pemenang

Anggota tubuh kita adalah amanat dari Allah Subhanahu Wata’ala, jangan digunakan untuk hal haram. Kita menjaga mulut, mata dan telinga kita dari hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, karena kita takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ketika kedua putra Nabi Adam AS, salah satunya membunuh dan salah satunya dibunuh, siapakah yang menjadi pemenang? Yang membunuh atau yang dibunuh? yang dibunuh dialah yang menjadi pemenang dan yang membunuh menjadi pecundang selama-lamanya. Putra Nabi Adam AS yang terbunuh mengatakan “Kalau engkau ulurkan tanganmu untuk membunuhku saya tidak akan menjulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu, saya takut kepada Allah bukan takut kepadamu. Saya takut kepada Allah, tidak mau membunuh tidak mau membalas.

Read more

Penutup Umur Pertama

Berikut akan diterangkan perbicaraan mengenai sifat-sifat ummah Muhammadiyah (umat Muhammad) yang dipetik dari beberapa Hadis dan atsar untuk renungan bersama.

Berkata Wahab bin Munabbih rahimahullah: Apabila Musa a.s. membaca pada lauh-lauh (commandment) terlihat olehnya sifat-sifat kelebihan umat Muhammad, lalu beliau berkata: Ya Tuhanku! Siapakah gerangan umat yang di rahmati, yang kudapati tersebut di lauh-lauh ini? Berfirman Tuhan: Itulah umat Muhammad. Mereka redha dengan rezeki yang sedikit yang aku berikan kepadanya. Maka Aku pun redha dengan amalan yang sedikit dari mereka. Akan Aku masukan mereka kedalam syurga dengan hanya mengucapkan Laa Ilaahaa Illallaah saja.

Berkata Musa a.s.: Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang akan di bangkitkan di Hari Kiamat, sedang wajah-wajah mereka bersinar cahaya laksana bulan purnama, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan: Mereka itu adalah umat Muhammad. Aku bangkitkan mereka itu di Hari Kiamat, sedang wajah-wajah mereka bersinar dan bercahaya di sebabkan bekas-bekas dari wudhu’ dan sujud.

Berkata Musa a.s.: Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang berkain selendang di punggung masing-masing, dan bersenjataan pedang di bahu masing-masing. Mereka itu orang-orang yang sen antiasa bertawakkal dan dadanya penuh keyakinan. Mereka menyerukan nama Allah di hadapan tiap-tiap rumah Tuhan untuk berjihad di atas kebenaran, sehingga akhirnya merekapun membunuh Dajjal, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan: Tidak! Mereka itu umat Muhammad.

Berkata Musa a.s.: Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang menyembahMu pada sehari semalam lima kali sembahyang pada lima waktu, sehingga terbukalah pintu-pintu langit untuk mereka, dan turunlah rahmat kepada mereka, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan: Mereka itu adalah umat Muhammad.

Berkata Musa a.s.: Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang berpuasa sebulan Ramadhan untukMu, lalu engkau mengampuni mereka terhadap segala kesalahan mereka yang sebelum itu, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan Mereka itu umat Muhammad.

Berkata Musa a.s.: Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang mengunjung Baitul-haram (Ka’bah) untukMu. Mereka tiada keperluan lain untuk di tunaikan. Mereka hanya meratap menangisi diri Mereka, serta mengangkat suara dengan takbir membesarkan Tuhan, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan : Mereka itu umat Muhammad. Musa menambah kata; Apakah ganjaran mereka atas perbuatan itu? Jawab Tuhan: Aku akan menambah mereka maghfirat (ampunan) dan Aku akan benarkan mereka untuk memberi syafaat (jaminan) kepada siapa yang datang sesudah mereka.

Berkata Musa a.s.: Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang memohon  ampunan dari dosa-dosanya. Mereka menyuap suatu suapan ke dalam mulutnya, dan belum sempat makanan itu sampai ke perutnya, melainkan dosa-dosa itu telah di ampunkan Tuhan. Mereka memulai  menyuap makanan itu dengan menyebut namaMu serta mengakhirinya dengan mengucap syukur Alhamdulillah, jadikanlah mereka itu umatku. Berfirman Tuhan: Mereka itu adalah umat Muhammad.

Berkata Musa a.s.: Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat, mereka itulah orang-orang Yang terdahulu di bangkitkan menuju ke Mahsyar pada Hari Kiamat, dan merekalah juga orang-orang yang terakhir dari makhluk-makhluk yang lain , ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan: Mereka itu adalah umat Muhammad.

Berkata Musa a.s.: Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang menyimpan kitab-kitab sucinya di dalam dadanya mereka membacanya di mana mereka suka, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan: Mereka itu adalah umat Muhammad.

Berkata Musa a.s.: Ya Tuhanku! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang kiranya  mereka bercita-cita untuk mengerjakan suatu kebajikan, malah tiada dikerjakannya maka akan di catatkan baginya suatu kebajikan. Akan tetapi jika di teruskan cita-citanya itu dengan mengerjakan kebaikan itu, maka akan di catatkan baginya sepuluh kali lipat  sepertinya, sehingga menjadi tujuhratus kali lipat, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan: Itulah umat Muhammad.

Berkata Musa a.s.: Ya Tuhanku! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang kiranya mereka bercita-cita untuk mangerjakan suatu kejahatan, kemudian tiada di lakukannya, tiadalah di catatkan di atasnya dosa. Akan tetapi jika di teruskan cita-cita itu dengan mengerjakan kejahatan itu, barulah di kira atasnya suatu dosa, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan: Itulah umat Muhammad.

Berkata Musa a.s.: Ya Tuhanku! aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat, mereka itu adalah sebaik-baik manusia. Mereka menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan: Mereka itulah umat Muhammad.

Berkat Musa a.s.: Ya Tuhanku! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang di bangkitkan pada Hari Kiamat dalam  tiga golongan. Segolongan akan memasuki syurga tanpa hisab. Segolongan lagi akan di hisab dengan perhisaban yang ringan saja. Dan segolongan terakhir di ampunkan Tuhan segala dosanya, lalu mereka pun memasuki syurga, jadikanlah mereka itu umatku! Berfirman Tuhan: Mereka itu umat Muhammad.

Berkata Musa a.s.: Ya Tuhanku! Engkau telah anugerahkan segala kebaikan untuk Ahmad (Muhammad) dan Umatnya, maka jadikanlah aku dari umatnya! Berfirman Allah Ta’ala, sebagaimana yang tersebut di dalam Al –Quran:

يا موسى إني اصطفيتك على الناس برسالاتي وبكلامي فخذ ما آتيتك وكن من الشاكرين .   الأعراف:144

“Wahai Musa! Sesungguhnya aku telah memilih engkau dari antara manusia untuk menyampaikan perutusanKu dan percakapanKu, maka terimalah apa yang Aku berikan kepadamu, dan hendaklah engkau menjadi orang-orang yang bersyukur,”      (Al-A’raf:144)

Daripada Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bertanya kepada para sahabatnya suatu hari: Apa pendapat kalian mengenai firman berikut ini:

“Dan tiadalah engkau (Muhammad) di penjuru gunung thur sina, ketika kami memanggil (Musa).”        (Al-Qashash: 46)

Mereka lalu menjawab: Allah dan RasulNya sajalah yang lebih mengetahui.

Maka bersabda baginda:

Apabila Allah Ta’ala berkata-kata dengan Musa a.s. maka Musa berkata: Ya Tuhanku! Adakah engkau telah mencipta seseorang makhluk yang lebih mulia di sisiMu daripada ku. Engkau telah memilihku dari antara banyak manusia, dan Engkau berkata-kata kepadaku di gunung Thur sina. Berfirman Tuhan: Wahai Musa! Tidaklah engkau mngetahui bahwasanya Muhammad itu lebih mulia di sisiKU dari sekalian makhlukKu. Dan sudah aku teliti semua hati hamba-hambaKu, maka tiadalah Aku dapati suatu  hati pun yang lebih merendah diri dari hatimu. Sebab itulah Aku memilihmu dari antara sekalian manusia untuk engkau menyampaikan perutusanKu da percakapanKu. Maka hendaklah engkau wafat dalam keadaan mengesakan Aku (tauhid), dan juga dalam mencintai Muhammad s.a.w.

Berkata Musa a.s.: Ya Tuhanku! Adakah di atas muka bumi ini suatu kaum yang lebih mulia di sisiMu daripada umatku. Engkau telah melindunginya dengan awan-germawan. Engkau turunkan dari langit makanan Man dan Salwa untuk mereka. Berfirman Tuhan: Wahai Musa! Tidakkan engkau mengetahui, bahwasanya kelebihan umat Muhammad atas sekalian umat yang lain, laksana kelebihanKu atas sekalian makhluk-makhluk Ku.

Berkata Musa a.s.: Ya Tuhanku! Berilah aku melihat mereka (umat Muhammad) Berfirman Tuhan : Engkau tidak akan dapat melihat mereka. Tetapi jika engkau mahu mendengar suara mereka, bolehkah Aku dengarkan. Berkata Musa: Baiklah, aku suka. Berfirman Allah Ta’ala: Wahai umat Muhammad! Maka sekalian umat Muhammad menyahut dengan suatu suara yang keras: Labbakalkallahuma Labbaika! (Kami menyahut, duhai Tuhan, kami menyahut), padahal ketika itu mereka sekalian masih berada di dalam tulang-tulang sulbi bapa-bapa mereka (masih belum di lahirkan lagi–pent). Maka berkata Allah Ta’ala: RahmatKu dan salam sejahteraKu atas kamu. RahmatKu mendahului kemurkaanKu, dan ampunanKu mendahului siksaanKu. Ketahuilah bahwasanya Aku telah mengampuni kamu sekalian sebelum memohon ampun kepadaKu. Aku telah mengabuli kamu sebelum kamu memohon kepadaKu. Aku telah memberi kamu sebelum kamu meminta kepadaKu. Lantaran itu, barang siapa di antara kamu yang menemuiku sedang dia menyaksikan Laa Ilaaha Illallaah wa-anna Muhammadar Rasulullah (tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad Rasulullah ) niscaya Aku mengampuninya segala dosanya.

Berkata Rasulullah s.a.w.: Allah s.w.t. ingin memberi kurniaNya kepadaku dengan memfirmankan ayat berikut: Dan tiadalah engkau (Muhammad) di penjuru gunung Thur Sina, ketika Kami menyeru. Yakni umatmu sehingga Musa a.s. dapat mendengar percakapan mereka.

Sekianlah yang di jelaskan oleh Syaikh Arif-billah Abdul Aziz ad-Dairiniy dalam kitabnya ‘Thaharatul-Qutub’


sumber : sabilul iddikar

Penciptaan Rasulullah SAW

Al-Abbas, paman Rasulullah s.a.w. mengisyaratkan  dalam beberapa bait syair dalam  memuji baginda Rasulullah, di antara yang di katakannya:

من فبلها طبت في الظلال وفي * مستودع حين يخصف الورق

ثم هبطت البلاد لا بشر أنـ   *  ـت ولا مضغة ولا علق

بل نطفة تركب السفين وقد   *  الجم نسرا وأهله الغرق

تنقل من صالب إلى رحم      *   إذا مضى عالم بدا طبق

Sejak awal engkau telah menjadi terbaik  di dalam naungan

Dalam gedung simpanan ketika tubuh insan di bungkus dedaunan

Engkau lalu turun ke bumi (dalam sulbi adam) bukan dalam rupa manusia

Bukan juga segumpal darah, ataupun segumpal  daging

Akan tetapi engkaulah nutfah air mani, yang bersama Nuh dalam bahteranya

Menempuh bah besar yang menenggelamkan berhala Nasr dan penyembah-penyembahnya

Engkau terus berpindah-pindah dari sulbi kepada rahim

Apabila suatu kaum hilang, yang lain pula tumbuh berganti

          Dan seterusnya ia berkata:

حتى احتوى بيتك المهيمن من * خندف علياء دونها النطق

Hinggalah engkau di tempatkan dalam kandungan yang penuh keberkehan

Dari seseorang ibu yang bernafas tinggi kesuciannya tiada di ragukan

Di riwayatkan bahwasanya Nabi Adam a.s. pernah mendengar tasbih dari nur (cahaya) Rasulullah s.a.w. di tulang punggungnya seperti bunyi burung mengibas-ngibaskan sayapnya. Ketika  siti Hawa mengandungkan puteranya Syits, nur itu berpindah kepada Siti Hawa, kemudian kepada Syits pula. Nur itu seterusnya berpindah-pindah dari satu sulbi yang suci kepada sulbi yang lain, dan dari rahim yang bersih kepada rahim yang lain, sehinggalah Rasulullah s.a.w. di lahirkan dari antara kedua ibu-bapanya yang mulia itu, tiada di sentuh sesuatu pun dari sifat-sifat kaum jahiliyah yang cemar dan keji. Meskipun di katakan berlaku antara mereka pernikahan yang batil, tetapi Allah s.w.t. membersihkan Nabi kita s.a.w. daripadanya, sebagaimana sabdanya alaihis-shalatu was-salam:

خرجت من نكاح ولم أخرج من سفاح.

” Aku di lahirkan dari nikah dan bukan dari zina.”

Dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala berikut:

الذي يراك حين تقوم وتقلبك في الساجدين .    الشعراء : 218-21

“Yang melihat engkau ketika berdiri. Dia melihat gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.”   (As-Syu’ara:218-219)

Dari Ibnu Abbas r.a. bahwasanya maksud ‘gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.’, yaitu berpindah-pindahnya zat baginda s.a.w. dari satu sulbi Nabi kepada sulbi Nabi yang lain: umpamanya Ismail, Ibrahim, Nuh, syits dan Adam alaihimus-salam, dan hal ini tiada syak dan ragu lagi.

Adapun pertemuan baginda dengan adam di langit dunia pada malan Isra’ dan Mi’raj, maka baginda ketika itu masih dalam peringkat umur duniawi, sedang Adam a.s. sudah berada dalam  peringkat umr barzakh. Sedang bayangan gelap dan hitam yang di lihat oleh baginda di kanan-kiri Nabi Adam a.s. yang di tanyakannya, kemudian di jawab: itulah roh-roh kaummu! Besar kemungkinan mereka itu ialah orang-orang yang telah mati, dan ternyata amalan-amalan mereka berlainan dengan apa yang di perintahkan. Ataupun yang demikian itu mungkin maksudnya lain.

Adapun pertemuan Nabi Musa a.s. dengan Nabi Adam a.s. ketika mereka menghujjah satu sama lain, maka yang demikian itu berlaku di alam barzakh , ataupun mungkin di tempat lain. Hanya Allah sajalah yang lebih mengetahui dengan hakikat kebenarannya.


sumber : sabilul iddikar

1 2 3 10