Memanggil Saudara Kita Dengan Gelarnya

KAJIAN KITAB AL MUKHTAR MINAL ANWAR FII SHOHBATIL AKHYAR

OLEH HABIB AHMAD BIN NOUVEL JINDAN

MAJELIS WAKAF HABIB SALIM BIN AHMAD JINDAN SABTU SORE

SABTU, 27 SEPTEMBER 2014

Dalam pertemuan kali ini, kita masih akan membahas tentang hak persaudaraan. Insya Allah kita satu sama lain bersaudara, yang saling mencintai karena Allah SWT.

Hak persaudaraan yang berikutnya (yang ke-15) adalah hendaknya kita memanggil saudara kita bukan hanya sekedar namanya, tetapi panggil dia dengan gelarnya, secara khusus di hadapan nya atau di hadapan orang lain.

Ketika kita menjalankan ini, saudara kita akan merasa dihargai dan mempunyai tempat di atas kita. Dengan begitu maka kasih sayang dan kecintaan akan makin kuat diantara keduanya.

Beberapa kaum sholihin mengatakan, “Kalau engkau memanggil sahabatmu, panggillah dia degan gelar yang penuh pengagungan, maka sungguh kecintaan akan berakar di dalam hatinya.”

Kebiasaan orang arab adalah memanggil seseorang dengan kuniahnya, yaitu memanggil seseorang dengan nama anaknya, dan hal ini merupakan penghormatan bagi orang arab dahulu. Contoh, Sayyidina Ali dipanggil Aba Hasan.

Bahkan, terkadang seseorang yang tak punya anak pun dipanggil dengan nama kuniahnya oleh Rasulullah SAW. Sebagai contoh adalah panggilan Rasulullah kepada ‘Abdullah (adik Sayyidina Anas bin Malik) yang dipanggil Abu Umair.

Suatu ketika Rasul SAW datang ke rumah Anas bin Malik dan mendapati adiknya, ‘Abdullah menangis karena burungnya mati. Setelah beberapa hari Rasulullah SAW datang lagi ke rumah Anas bin Malik dan mendapati Abu Umair masih sedih. Rasul SAW kemudian memanggil ‘Abdullah dengan kuniahnya, “Wahai Aba Umair apa yang terjadi dengan Nughair?”

Rasulullah sampai sedemikian. Begitulah akhlaq yang mulia (dari Rasulullah SAW).

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam fath al-bari mengatakan dari ucapan Rasul, “Wahai Aba Umair, apa yang terjadi dengan Nughair?” ini saja, para ulama mengambil lebih dari 80 sampai 100 hukum dalam agama dan itu bukan hukum yang sepele, tetapi hukum-hukum yang besar dan itu dijelaskan satu per satu dalam fath al-bari.

Padahal, kite tahu kalau ucapan ini hanya sebuah ucapan sebagai hiburan. Inilah Nabi Muhammad SAW yang merupakan utusan Allah SWT. Segala gerak gerik beliau SAW sekecil apapun mengandung hukum.

“Tanda cinta seseorang terjalin karena Allah dan Rasul-Nya adalah menjadi terjauhnya mereka dari kemaksiatan.”

Demikianlah hak persaudaraan, kita dituntut untuk memanggil dengan penghormatan.

Hak persaudaraan berikutnya adalah kita harus mengakui dan meyakini bahwa saudara kita lebih mulia dari kita, kita harus memandang bahwa dia berjasa kepada kita, dan kita harus mengakui sehebat apapun kita memberikan perhatian dan anugerah kepada saudara kita, tetap kita takkan bisa membalas jasa saudara kita.

Inilah hak persaudaraan yang harus diperhatikan dan harus dihadirkan di dalam hati kita ketika kita menjalin persaudaraan karena Allah SWT.

Perasaan seperti ini jika ada di dalam hati kita, tentunya hati kita akan enak. Kita akan semakin sayang kepada saudara kita karena kita merasa selalu mempunyai hutang kepadanya.

Nah, apalagi kalau dari pihak saudara kita ketika mendapati kita seperti ini? Dia pasti bakal seneng dan sayang dengan kita. Dia bahkan akan menganggap kita mempunyai jasa yang bahkan lebih dari dia sendiri.

Hak persaudaraan berikutnya adalah hendaknya kita selalu mengunjungi saudara dan sahabat yang kita jalin persaudaraan dengannya karena Allah.  Sikap seperti ini akan menumbuhkan cinta dalam hati bagi mereka yang menjali cinta karena Allah.

Imam Syafii, guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, senantiasa berkunjung ke imam Ahmad, begitu juga imam Ahmad. Jika Imam Ahmad yang datang itu wajar, tetapi hebatnya Imam Syafii, beliau seringkali datang kepada Imam Ahmad. Sampai beberapa orang yang tidak suka mengatakan kepada imam Syafii, “itu kan muridmu, kenapa engkau yang datang?”

Imam Syafii membawakan syairnya yang indah

قالوا يزورك أحمد فتزوره                قلت الفضائل لا تفارق منزله

إن زارني فبفضله ، أو زرنه                     فلفضله ، والفضل في الحالين له

Mereka mengatakan bahwa Ahmad (bin Hanbal) berkunjung padamu sehingga kamu berkunjung padanya , Aku berkata bahwa kemuliaan di kedua hal ini adalah milik Ahmad (bin Hanbal)

Apabila dia berkunjung kepadaku, itu karena akhlaqya yang mulia dan ketika aku datag kepadanya itu karena kemuliaan yang dimilikinya

 Mendengar itu, Imam Ahmad membuat syair pula untuk Imam Syafii

إن زرتنا فبفضل فيك تمنحنا            أو نحن زرنا فللفضل الذي فيك

فلا عدمنا كلا الحالين منك ولا         نال الذي يتمني فيك شانيك

Ketika engkau datang  berkunjung kepada kami, itu karena engkau punya kemuliaan yang ingin kau berikan kepada kami yang faqir

Ketika kami datang kepadamu itu karena kami mengharap kemuliaan yang engkau miliki wahai Imam, sehingga dalam kedua keadaan kemuliaan adalah milikmuWahai Imam.

 

Sayyidina Ali Khawash mengatakan, “Kunjungan pada saudara yang terjalin karena Allah akan menambah kadar keimnan, ketika kita tinggalkan maka iman juga akan menipis.”

***DOWNLOAD***

Share Button
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *